3 Rahasia Pernikahan Bahagia

Rahasia Pernikahan Bahagia - Usia pernikahanku dengan suami memasuki tahun ke-9 tahun depan. Tidak terasa, waktu berjalan sangat cepat. Rasanya baru kemarin kami menikah, karena meski setiap hari bertemu masih seperti teman, kadang seperti sahabat, kadang seperti pacar tapi seringnya sih memang melihat dia sebagai bapaknya anak-anak! Hahahaha


Memasuki usia pernikahan ke-9 bukan ga pernah merasa jenuh dan aku bukan orang yang sabar, lemah lembut seperti perempuan-perempuan di luar sana khususnya terhadap suamiku.

Sama suami aku memang tidak ada jaim-jaimnya, mau marah loss saja, mau ngambek atau apa pokoknya I don't care. Suami sih tidak pernah protes, lagipula yang ngajarin begini juga dia kok. Awalnya aku malu-lah.

Pernah suami bertanya:

 "Hani kenapa sih kalau sama Mas kok jahat banget?" 

Karena kalau sama orang aku cenderung selalu berusaha sabar dan konon lebih kalem.

Ya...kadang rasa nyaman yang dia ciptakan menjadi boomerang juga. Tapi, sebenarnya di balik semua itu lebih banyak kelembutan yang kupersembahkan buat dia, jelas dong dia kan suamiku, hehehe. No matter what, aku hormat dan mencintai dia. 

Pernikahan kami di awal memang banyak perselisihan, kami ini dua pribadi yang sama-sama keras. Stubborn. Akan tetapi, setiap pertengkaran itu ternyata membantu kita saling mengenal satu sama lain.

    Baca juga: Banyak cara merawat cinta

Tidak perlu jadikan alasan berpisah terjadinya pertengkaran kecil di tahun pertama pernikahan. Karena ini adalah masa pengenalan dua pribadi, dua adat serta kebiasaan dua insan yang berbeda. 

Sebagai informasi, kami tidak pacaran. Jadi, aku menikah sama suami hasil nodong. Dia ngajak kenalan, dengan ketus tak todong buat nikah dan dia setuju.

Pernikahan tanpa konflik memicu rasa bosan

Ah, ya... benarkah jika dalam suatu pernikahan tidak ada konflik bikin bosan? Harusnya bersyukur dong. Benar sih, harusnya bersyukur saja kalau semua baik-baik saja. 

Yang aku maksud di sini adalah, jangan pernah berpikir kalau pernikahan bahagia itu pernikahan yang tanpa ada masalah sama sekali.

Dalam kehidupan rumah tanggaku, aku kenyang dengan nasehat pernikahan dari Mama mertua, Bundaku sendiri. Dan pastinya aku belajar dari pernikahan mereka, pernikahan orang-orang di sekelilingku dengan segala cerita mereka yang aku tampung sebagai pembelajaran.

Dengan kata lain, aku memang selalu senang diajak bercerita, mendengarkan dan memberikan tanggapan jika diminta. 

Rahasia Pernikahan Bahagia

Mama mertuaku memiliki kiat-kiat agar pernikahan bahagia yaitu:

  1. tidak ada orang paling cantik atau tampan selain pasanganmu. Setia
  2. tidak ada rahasia dengan pasangan kita, selalu terbuka apalagi masalah keuangan
  3. istri tidak butuh dimanjakan atau gelimang harta tapi paling tidak kasih perhatian mereka

Nah itu 3 rahasia pernikahan bahagia dari Mama mertua.

Sedangkan kiat-kiat dari Bundaku adalah sebagai berikut:

  1. hormati dan layani suami dengan baik. Well...suamiku bukan type yang senang dilayani tapi sebaliknya. Suamiku dan Papaku memiliki banyak kesamaan dalam bersikap ke istri dan anak-anaknya. 
  2. Jangan mencintai 100% atau bucin, cintai sewajarnya.
  3. Setia. Perempuan itu harus punya harga diri tinggi, bisa jaga diri dan ga gampangan.

3 Rahasia Pernikahan Bahagia Bundaku sama Papa itu. Tapi, aku pikir lebih dari itu cuma Bunda orangnya ga pandai mengekspresikan sesuatu ke dalam suatu kalimat. Kalau dimintain nasehat saja dia selalu bilang:

"kamu yang berpendidikan lebih tinggi pasti lebih pintar dari Bunda"

Padahal konsepnya ga begitu, kan? Masalah kehidupan sih orang tua jauh lebih expert.

    Baca juga: Hidup Berkeluarga

Kalau aku sendiri memiliki 3 Rahasia Pernikahan Bahagia juga belajar dari semua cerita dan pernikahan orang-orang di sekelilingku. Sebenarnya bukan rahasia, ini cuma sebuah kesimpulan dari 9tahun pernikahan yang mirip roller coaster. Tapi, percayalah, aku merasa all is fine setelah terapkan 3 hal ini.

Pertama: Membangun komunikasi yang baik. Suami bukan orang yang bisa ungkapkan rasa dengan kata-kata tapi dengan gesture, sikap aku berusaha memahaminya saja. Walaupun kadang masihlah aku belum selalu bisa menangkap bahasa komunikasi dia, hahahaha. 

Tapi, kami sering memiliki pemikiran sama dan ini menyebalkan karena dia akan bilang "jangan-jangan kita jodoh" 

Misal aku berpikir ingin makan pecel, tiba-tiba saja dia bilang:

"Mommy...enaknya makan pecel kali ya…"

Dan ini sering banget terjadi, lho!

Kedua: Kami terus belajar saling menghormati, memahami, menyayangi dan memelihara hubungan. Sadar banget, kami sama-sama memiliki ego yang besar jadi menahan ego dalam setiap aspek rumah tangga adalah kunci untuk bisa saling memahami, menghormati dan akhirnya bisa tetap menjaga rasa sayang.

Ketiga: Saling percaya dan setia satu sama lain. Pekerjaanku selalu berhubungan dengan lawan jenis, disinilah pentingnya mengkomunikasikan dengan suami. Tapi, suami faham aku seorang tenaga marketing yang akan bertemu banyak orang.

Bagaimana dengan dia? Ya, perempuan itu gudangnya curiga, kalau aku ada yang tidak nyaman dengan teman-teman perempuannya pasti aku langsung ungkapkan dan dia mau mendengarkan juga memahaminya.

    Baca juga: Cinta Pertama

1 comment:

  1. Menjalin komunikasi dengan pasangan memang hal wajib agar pernikahan jadi bahagia ya mbak, dengan komunikasi maka jika ada sesuatu yang kurang sreg pasangan jadi tahu.

    Selain itu, saling memahami, menghormati dan juga saling mencintai dengan pasangan.

    Makasih artikel nya mbak, jadi tahu tips agar pernikahan bahagia, sangat penting buatku yang masih pengantin baru nih.😄

    Pengantin baru, baru 17 tahun.😅

    ReplyDelete

Hai Sahabat,

Terima kasih sudah berkenan datang dan membaca.

Cheers dan Banyak Cinta dari Bali!!

XoXo