Perangi Musuh Terbesar Kita, Hoax!

 Pandemi masih saja berlanjut, aku pikir pandemi kaan berakhir Juni 2020 lalu nyatanya sampai July 2021 masih berlanjut, bikin sesak dada bukan karena virusnya akan tetapi melihat keadaan sekitar.

Banyak sekali saudara-saudara kita yang berteriak "aku bisa mati bukan karena Corona akan tetapi karena tidak makan" yup! Pandemi ini memang melahirkan banyak kebijakan yang dinilai banyak masyarakan middle low tidak bijaksana. Terlepas dari itu semua, keabaian masyarakat akan prokes bisa jadi yang memicu kebijakan-kebijakan itu terlahir.

Di tengah hirup pikuk pandemi yang tak kunjung selesai kita pun dijejali dengan banyak informasi yang belum tentu benar.

Sebut saja tentang vaksin. Banyak yang menolak vaksin dengan alasan takut di masukin chips, beneran logika ga nyampai kesini! Dan tidak sedikit pula yang menyebar luaskan tentang bagaimana bahayanya vaksin. Padahal, kita semua tahu vaksin ini salah satu iktiar kita untuk bisa hidup berdampingan dengan Virus Corona.

Munculnya berita-berita hoax di group-group WA yang umumnya berisi emak-emak yang begitu mudah emosinya dipengaruhi oleh berita yang menakutkan ini membuat banyak sekali yang takut divaksin. Tanpa menyebut mereka yang memang antifax dalam kehidupan mereka.

Pengaruh emak-emak alias ibu-ibu itu sangat besar lho di dalam sebuah bangsa, oleh karena itu ada baiknya kita para ibu mengisi otak kita dengan banyak ilmu pengetahuan dan informasi yang benar. Setiap ada berita yang tersebar di WAG tugas kita untuk lakukan cross check, tabayun, benar tidak? Kalau tidak benar kita harus berani utarakan kebenarannya dengan sumber yang jelas.

Kemudahan serta kecepatan akses informasi ini memang seperti dua ujung mata pisau yang sama tajamnya. Bisa bermanfaat dengan baik jika informasi yang kita sebarkan baik dan sebaliknya akan sangat buruk jika informasi yang kita sampaikan salah.

Begitu pula dengan vaksin ini, setiap vaksin memang ada efek sampingnya. Namanya juga tubuh kita dimasukin virus, tapi sudah dilemahkan. Tujuannya apa sih? Kalau tubuh udah kenal dengan virus tersebut maka saat tubuh kita bertemu dengan virus tersebut tidak akan kaget dan gejala yang timbul relatif ringan. Memang vaksin ga serta merta bikin kita bebas terpapar. Oleh karena yang dimasukin ke tubuh virus yang dilemahkan, maka wajib kita konsultasi ke dokter sebelum vaksin. Ceritakan sebenarnya tentang keadaan tubuh kita, apakah ada penyakit bawaan, ada hipertensi atau saat itu tubuh kita sedang ga fit. Istilahnya screening, nah setelah dilakukan screening ini dokter akan ambil keputusan buat vaksin atau tidak, tunda atau tidak sama sekali. Bagi yang tidak bisa vaksin akan diberikan surat keterangan.

Dengan vaksin ternyata kita masih bisa kena virus? Lho, pasti masih bisa cuma gejalanya jadi lebih ringan sebab tubuh kita sudah mengenali virus tersebut. Sehabis vaksin kok malah sakit,? Yaitu tadi karena tubuh kita dimasukin virus jadi tubuh kita bereaksi, oleh karenanya sat screening kita harus jujur tentang semua riwayat kesehatan kita. Jikalai masih ragu konsultasi saja dahulu.

Kita semua berharap pandemi ini segera berakhir, ya? Jadi, ikhtiar bersama harus kita lakukan. Dengan vaksin dan patuh dengan prokes kita harap pandemi ini segera berakhir lalu perekonomian segera membaik.

2 comments:

  1. Bagaimana mengedukasi, karena akan sangat sulit ketika masyarakat sudah lebih dulu dicekokin informasi yang salah.
    Hoax2 harus segera dipatahkan.

    ReplyDelete
  2. Halo mbak hanila apa kabarnya?

    Kalo emak saya malah nyuruh divaksin mbak, soalnya selain biar tubuh kebal juga biar bebas kemana saja, sekarang kalo mau kemana-mana kan harus ada sertifikat sudah vaksin.

    Emak saya juga tidak termakan hoax di grup WhatsApp karena enggak punya WA, hanya nonton TV saja, jadi beritanya lebih terpercaya 😃

    ReplyDelete

Hai Sahabat,

Terima kasih sudah berkenan datang dan membaca.

Cheers dan Banyak Cinta dari Bali!!

XoXo