Pospartum itu nyata!


Pospartum depression
ini orang sering menyalah artikan sama dengan baby blues padahal ini merupakan dua hal yang berbeda. Menurut situs Women Health yang aku baca, Baby blues ini merupakan kondisi mood swing yang terjadi pasca persalinan yang terjadi dalam 3 - 5 hari atau maksimum 2 minggu. Sedangkan pospartum biasanya terjadi dalam kurun waktu 6minggu. 

Gejala yang terjadi pada Postpartum hampir sama dengan baby blues akan tetapi kondisi ini lebih parah karena ada rasa gelisah, cemas sampai ingin membubuh diri sendiri, ngeri ya?

Kenapa bisa terjadi? itu terjadi karena perubahan hormon yang terjadi di dalam tubuh secara drastis serta perubahan kimia dalam otak. Di tambah lagi, hal ini terjadi karena faktor fisik serta emosional, oleh karenanya lingkungan yang buruk dapat memperburuk keadaannya.

Aku berpikir kalau hal ini tidak akan terjadi padaku, karena aku ini orangnya selalu memiliki pemikiran positive. Dulu saat pasca persalinan normal anak pertama, aku sempat mengalami baby blues, seminggu pertama sempat mengalami mood swing ditambah kecapekan harus mondar-mandir ke RS karena bayi Zafa katanya butuh treatment tambahan.

Namun, hamil kedua ini benar-benar aku merasakan yang namanya postpartum, beruntungnya aku ada orang terdekat yang sadar akan hal ini dan selalu bertanya kabarku serta mengatakan kekhawatirannya akan hal itu, sehingga membuat aku tersadar juga bahwa kondisi psikisku sudah tidak normal. Kesadaran seperti itu membuat aku lebih banyak istighfar di saat aku merasa ingin menyakiti diri sendiri seperti membenturkan kepala, menjambak rambut atau memukul bagian tubuhku yang lain. Meski aku belum bisa mengontrol emosi seperti menangis dan merasa cemas, marah serta tidak mampu.

Bayiku berusia satu bulan besok tanggal 17 ini dan aku merasa sedikit legah sehingga bisa menuliskan pengalamanku di sini.

Aku ini orang yang selalu berpikir positive jadi aku pikir tidak akan mengalami kondisi psikis yang aku pikir sangat aneh. Akan tetapi, siapa yang bisa mengelak kondisi perubahan hormon dan kimia di otak yang terjadi secara alami, di tambah lagi dengan rasa sakit yang kadang masih terasa di bekas jahitan bagian dalam, rasa lelah mengurus bayi. Benar, ada suami yang membantu akan tetapi banyak sekali hal-hal yang tidak dapat diwakilkan ke suami.

Dan aku pun faham, kenapa orang-orang pasca persalinan perlu didampingi, dibantu serta dilayani karena kondisi seperti ini dengan adanya perubahan hormon, kondisi fisik gampang sekali membuat psikis langsung down. Jadi, menurutku setelah mengalami hal ini, sangat tidak pengertian mereka yang menuntut perempuan pasca persalinan melakukan banyak hal. Seharusnya mereka disuruh focus healing terhadap dirinya sendiri dahulu dan focus dengan bayinya. 

Dan kita sebaiknya tidak mudah menghakimi orang yang mengalami postpartum dengan mengatai mereka tidak punya iman saat mereka berusaha menyakiti diri sendiri bahkan ada yang pada tingkatan lebih parah menyakiti bayinya, naudzubillah mindzalik. Kondisi seperti itu aku yakin karena orang-orang di sekitarnya tidak pekah dan juga tidak memberikan pendampingan dan pastinya aku yakin pengaruh lingkungan negative (negative vibes) menjadi salah satu pemicunya juga. 

Sekali lagi aku beruntung karena setiap saat ada yang mengingatkan dan bertanya tentang kondisiku beberapa minggu terakhir pasca melahirkan ini, sehingga aku lebih banyak istighfar, mendengarkan shalawat serta murotal. Namun, tidak semua orang seberuntung aku jadi aku harap, kita sekarang lebih baik dalam menghadapi para perempuan pasca yang sedang hamil dan pasca persalinan. Well, ya....sebenarnya dalam segala kondisi perlakukan dengan baik. Intinya, jangan terlalu mudah mengatakan "lebay banget" apalagi ngatain "Manja banget" kondisi kehamilan sampai pasca melahirkan masing-masing perempuan itu berbeda satu sama lain, kalian yang kuat harusnya bersyukur dan berbagi tips sehingga lebih bermanfaat ketimbang membandingkan diri kalian, mengatakan betapa kuatnya kalian dulu.

Aku saja yang selalu  diperlakukan dengan baik dengan suami bahkan lebih baik saat tahu aku hamil masih mengalami postpartum. Jadi, jujur baru dalam minggu ini aku merasa biasa ditinggal suami agak lama untuk kepentingan lain, sebab kan ga mungkin suami di kamar mulu buat nemanin. 

Sebelumnya, bayi nangis sedikit aku ikut menangis, lalu aku merasa cemas dan ada rasa sedih yang aku sendiri tidak faham, aku pun gampang tersinggung, emosiku gampang tersulut, beberapa kali ingin benturkan kepala ke tembok dan menjambak rambut tapi yaitu aku selalu terberkati, alhamdulillah. Di saat seperti itu ada saja yang membuatnya urung.

Masih beruntung juga, karena aku ada yang setiap saat mengingatkan aku pun berusaha mendorong diriku sendiri untuk focus pada hal lain. Mengerjakan hal-hal yang aku sukai sehingga aku tidak focus pada apa yang aku rasakan, aku sibukkan pikiranku pada apa yang aku kerjakan, seperti membuat konten, menulis atau mengerjakan kegiatan marketing yang memang aku sukai.

Kalian boleh juga baca cerita seputar persalinanku: kenapa aku gagal dengan persalinan normal

No comments:

Post a comment

Hai Sahabat,

Terima kasih sudah berkenan datang dan membaca.

Cheers dan Banyak Cinta dari Bali!!

XoXo