Pecah Ketuban


Pecah Ketuban menjadi moment paling mendebarkan di 17 January lalu, saat itu aku masih santai bahkan belum mengemas tas bayi buat persiapan persalinan karena aku pikir HPL masih cukup lama semingguan lebih. Dari pengalaman anak pertama yang lahir tepat HPL aku pun bersikap biasa-biasa saja. Sampai pada dini hari sekitar jam 4 aku ingin bangun untuk Tahajjud dan tiba-tiba seperti ada rembesan air di celana dalamku. Tapi, saat itu aku berpikir positive bahwasannya itu darha putih yang normal keluar di kehamilan trisemester tiga.

Tidak memperhitungkan kalau kehamilanku memasuki week 38. Aku melangkah ke kamar mandi dengan was-was, seperti biasa karena aku juga banyak minum aku pipis dulu. Tapi, ada yang bikin aku gemetaran saat berdiri dari pipis seperti ada sesuatu yang pecah dan keluar, aku hampir tidak dapat membedakan apakah itu air kencing atau ktuban?

Masih, berpikir positive dan terus berdoa mungkin itu bukan ketuban. Tapi, aku mengambil pembalut dan memakainya. Bahkan aku masih sholat tahajjud meski di rakaat kedua aku sudah tidak bisa konsentrasi karena seperti ada yang keluar tanpa bisa di kontrol. 

Setelah selesai sholat tanpa doa karena aku sudah deg-degan saja, aku mencari tahu di internet tentang apa yang terjadi padaku. Sampai akhirnya suami bangun, aku memberi tahunya. Lalu dia mengirim pesan lewat WhatsApp ke SPOG tempat aku kontrol. Karena terlalu pagi kami tidak langsung mendapatkan balasan. Dan saat itu aku merasa sudah tidak ada yang keluar atau nrembes jadi aku pun tidur. Aku bangun jam 9-an dan saat itu suami bilang SPOG balas. Tapi, karena aku bilang ke suami udah ga nrembes kami tidak mengikuti saran SPOG kami buat ke RS untuk diperiksa.

Suami mengirimkan pesan WhatsApp lagi ke SPOG saat jam 10an aku merasa sudah mengalami bukaan, SPOG bilang kalau kontraksi sudah intens baru ke RS. Nah, saat itu aku yang tidak memiliki pengetahuan tentang pecah ketuban malah banyak aktifitas dengan tujuan agar aku cepat mengalami bukaan lengkap. Aku masih optimis bakal melahirkan normal.

Sampai jam tiga sore aku merasa banyak sekali cairan yang keluar, kami pun bergegas ke RS sambil menyandang tas yang sudah kami siapkan subuh tadi. Aku sempat berpesan ke Zafa kalau aku menginap satu malam saja di RS dan pulang bawah adeknya.

Sampai di RS karena cairan yang keluar makin banyak, akhirnya aku tidak diperbolehkan bergerak apalagi setelah diperiksa oleh tim medis kalau itu beneran cairan ketuban. Duh, aku gemeteran. Khawatir dengan keadaan si bayi. Aku pun dzikir terus menerus dalam hati, cemas tingkat tinggi sampai tidak terasa asam lambung naik!.

Setelah consult dengan SPOG dan dilakukan pemeriksaan terhadap detak jantung bayi dan gerakannya, dokter langsung menghampiri dan bilang aku harus di operasi apalagi pecah ketuban sudah terjadi 12 jam.

Jadi, sekitar jam setengah empat sore aku sampai rumah sakit jam setengah enam kurang bayiku sudah lahir. Dokter SPOG sempat berbisik setelah membantu persalinanku "Ketubannya kering, Bu. Adek bayinya kami observasi dulu ya, semoga tidak ada infeksi apa-apa". Duh, aku beneran deg-deg ser dan terus berdzikir  dan berdoa semoga bayiku sehat.

Oh iya, sebelum operasi dokter juga sempat mengatakan kalau aku butuh tranfusi darah karena kadar HB ku rendah dibawah 50% standard seharusnya. Suami setuju saja tapi stock darah kosong jadi harus ngantri ke PMI, alhamdulillah esok pagi sudah dapat darahnya.

Saat aku pindah ke ruang perawatan, perawat bilang kalau bayiku masih di observasi akan tetapi kalau aku sudah bisa miring dia bilang malam pun akan dipertemukan dengan bayiku untuk inisiasi dini sebab di ruang operasi keadaanku tidak memungkinkan. Jadi, semalaman aku tidak bisa tidur selepas operasi, aku latihan miring dan alhamdulillah berhasil! Sekitar jam 7 pagi aku dipertemukan dengan bayiku. Masayaallah aku menangis haru karena bayiku sangat mungil. Hanya dua kilo sekian beratnya tapi sangat cantik. 

Bayinya sih cantik, emaknya kacau hahaha

Perawat mengantarkan bayi tanpa bilang apa-apa, katanya kalau mau tanya hasil observasi aku bisa tanya langsung ke dokter anaknya. Dan sore hari saat suami ada, baru dia ke ruang dokter anak dan bertanya hasil observasi. Alhamdulillah, bayiku sehat dan tidak ada apa-apa. Sungguh keajaiban. Alhamdulillah ya, Allah. Aku sempat merutuk diri sendiri karena ga sigap dengan situasi.

Nah, dari pengalamanku ini aku ingin berbagi tentang apa sih beda air ketuban dan air kencing?

Pertama: Air Ketuban itu cenderung bening dan tidak berbau. 

Kedua: Kalau air kencing itu kita bisa tahan tapi kalau air ketuban tidak bisa, dia akan keluar sendiri tanpa bisa kita kontrol.

Ketiga: Saat pecah ketuban biasanya dibarengi dengan rasa seperti ada yang menyembur dari organ vital kita

Kalau sudah demikian yang harus kita lakukan adalah:

  • Pakai pembalut menghindari banjir!
  • Jangan banyak bergerak, berbaring saja
  • Langsung ke RS agar di check apakah benar yang keluar itu air ketuban atau kencing, dari situ akan dilakukan tindakan yang tepat.
  • Ikuti saran dokter, jikalau emang harus operasi berarti itu yang terbaik karena pecah ketuban dan sampai kering sangat berbahaya bagi bayi

Semoga sharing singkat dan ceritaku tentang kelahiran Zhafeera kemarin bisa memberikan referensi buat kawan-kawan. Jangan sampai seperti aku dan suami, meskipun kami dan bayi kami terberkati dan alhamdulillah semua selamat. 

Baca juga ceritaku tentang "Kenapa Aku Gagal Dengan Persalinan Normal?"


No comments:

Post a comment

Hai Sahabat,

Terima kasih sudah berkenan datang dan membaca.

Cheers dan Banyak Cinta dari Bali!!

XoXo