Ibu Sebagai Pemutus Mata Rantai Anemia



"Pak, kami telah melakukan tes darah pada Ibu, semua baik tapi di sini HB ibu sangat rendah jadi harus dilakukan transfusi darah sesuai dengan saran dokter. Golongan darh Ibu O dan stock di RS sedang kosong kami sedang antrikan di PMI"
 

Info seorang peawat berbaju serba biru yang hanya terlihat matanya dan sedari tadi menanganiku kepada suami, akan tetapi tatapan matanya mengarah kearahku. Suamiku yang sedari tadi terlihat tenang tapi aku bisa tahu dia sebenarnya sangat cemas dengan keadaanku dan juga bayi di dalam kandunganku saat itu. Aku bisa tahu dari sorot matanya. Suamiku mengangguk cepat, tanda setuju. 

Perasaanku tidak karuan saat itu, membayangkan ngerinya ruang operasi dan cemas dengan keadaan bayiku karena pecah ketuban kualami dari jam empat pagi. Tapi, saat itu aku hanya fokus dzikir untuk bayiku agar diberikan keselamatan dan lahir dengan sempurna meskipun harus melalui operasi. Rupanya dokter faham dengan kecemasanku, beliau menghampiri sambil tersenyum:

 "Santai, Bu...hanya sebentar yang penting adek keluar dengan selamat ya..."

Jadi, kalau saja tidak ada tindakan operasi untuk persalinan anak kedua ini mungkin aku tidak akan pernah  tahu kalau selama ini aku memiliki Anemia alias kurang darah.

Sebenarnya apa sih Anemia itu?

Menurut situs Alodokter.com Anemia atau kurang darah adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik yang mengakibatkan organ tubuh kita tidak mendapatkan distribusi oksigen yang mencukupi. Hal ini menyebabkan kita menjadi cepat lelah dan sering pusing.

Selepas operasi, saat aku ada di ruang observasi seorang perawat yang masih sangat mudah bersenyum manis mendekatiku, lalu dia berkata lirih:

"Nanti di kamar Ibu boleh langsung makan, makan yang banyak ya, Bu. Karena menurut keterangan di sini Ibu kurang darah. Kemungkinan transfusi darah bisa dilakukan saat pagi"


Aku mengangguk lemah karena aku merasa tidak ada tenaga, di samping aku menahan rasa kedinginan setelah keluar dari ruangan operasi yang super dingin itu. Aku memandang ujung kakiku yang gemetaran karena menggigil.

Dari peristiwa ini juga aku mulai faham kalau ternyata Anemia itu berbahaya. Selama ini, aku tahu kalau aku mengidap Anemia karena memang keluarga kami dari Ibu, Adik dan Kakakku semua mengidap Anemia. Dan kami selama ini tidak menganggap hal tersebut adalah hal serius yang harus diobati.

Perlu kita ketahui jika Anemia dibiarkan berkepanjangan maka akan mengalami potensi bahaya yang meliputi:

  • Tidak produktif karena cepat lelah disebabkan asupan oksigen yang kurang 
  • Detak jantung yang cepat karena jantung harus memompa banyak darah sebagai pengganti kekurangan oksigen dalam darah. Dalam hal ini aku masih mengalaminya sampai sekarang walau tak sesering sebelumnya.
  • Gangguan pada kehamilan seperti terhambatnya pertumbuhan janin, bayi lahir dengan berat badan rendah, kelainan bawaan dan lain sebagainya. 
  • Gangguan pertumbuhan pada anak-anak dan juga membuat mereka mudah terserang penyakit
  • Kematian. Kenapa bisa begitu? Dalam hal ini, misalkan terjadi pendarahan mereka akan mengalaminya dalam waktu cepat sehingga bisa berakibat fatal.

Dari sini sebagai wanita atau seorang ibu memiliki peranan penting dalam memutuskan mata rantai Anemia



Bagaimana Ibu Memutuskan Mata Rantai Anemia? Berikut upaya yang harus dilakukannya:

  • Membekali diri dengan pengetahuan tentang pentingnya memberikan ASI serta gizi seimbang terhadap perkembangan bayi
  • Menjaga kehamilan dengan mengkonsumsi makanan dengan kandungan gizi seimbang seperti asam folat, zat besi, vitamin serta mineral agar janin di dalam kandungan pertumbuhannya tidak terhambat. Serta memeriksakannya secara berkala.
  • Menyediakan makanan dengan gizi seimbang terhadap anak-anak dengan membiasakan memberikan dan memperkenalkan makanan yang beragam setiap harinya. Karena defisiensi zat besi pada anak dapat menyebabkan anak-anak lambat pertumbuhan fisiknya, tidak berprestasi serta gampang sakit.
  • Mengajak anak-anak beraktifitas fisik sesuai usia mereka secara rutin
  • Tidak memberikan batasan pada anak untuk mencoba berbagai menu makanan dengan dibawa pengawasannya.
  • Memahami pentingnya mengkonsumsi Vitamin C yang dapat membantu penyerapan zat besi dari makanan
  • Memberikan Tablet Tambah Darah (TTD) jika perlu
  • Memahami bahaya Anemia, pentingnya menyediakan makanan sehat serta gizi seimbang beserta gejala-gejala Anemia sehingga bisa melakukan pencegahan

Kenapa Ibu? Karena Ibu secara emosional memiliki ikatan penting terhadap pembentukan anak-anaknya, dia yang mengandung serta melahirkannya. 

Kurang Darah (Anemia) berbeda dengan Tekanan Darah Rendah

Gejala dari Anemia memang hampir sama dengan Tekanan Darah Rendah, akan tetapi kondisi ini jelas berbeda. Masyarakat pada umumnya sering salah. Karena tekanan darah rendah adalah kondisi di mana tekanan darah berada di bawah 90/60 mmHg. Gejala pada umumnya adalah lemah, letih, lesu, pusing, pucat sama dengan Anemia.



Kenali gejala Anemia seperti:

  • Lemah, letih, lesuh
  • Sering pusing dan sakit kepala
  • Mata berkunang-kunang 
  • Sering menguap dan mengantuk 
  • Kulit pucat atau kekuningan 
  • Detak jantung tak teratur (cepat karena bekerja lebih keras) 
  • Nyeri dada  dan
  • Tangan dan kaki biasanya dingin


Makanan Penambah Darah


Sebagai Ibu cerdas, untuk memutuskan mata rantau Anemia tahu makanan-makanan sebagai penambah darah adalah makanan-makanan yang mengandung zat besi, seperti:
  • Daging Merah
  • Jeroan, seperti hati ayam, hati sapi
  • Sayuran berdaun hijau
  • Kacang-kacangan
  • Kuning telur
  • Dan lain sebagainya


Danone Untuk Indonesia


Danone sebagai perusahaan makanan melakukan revolusi pangan serta berkomitmen memelihara penerapan makan dan minum yang lebih sehat agar masyarakat Indonesia hidup lebih sehat, termasuk bebas dari Anemia.

Dengan komitmennya Danone melakukan deteksi dini, menawarkan akses nutrisi, serta membuat program pendidikan untuk masyarakat. Langkah nyata yang sudah dilakukan adalah:
  • Memberikan pelayanan deteksi dini hemoglobin pada karyawan serta menyediakan makanan sehat kaya besi di kantin
  • Menawarkan inovasi produk bernutrisi tinggi yang terjangkau untuk Ibu dan Anak. Termasuk Susu Pertumbuhan
  • Menjalankan program pendidikan GESID untuk memastikan perubahan perilaku yang berkelanjutan di dalam masyarakat'
  • Berkomitmen menjadi mitra bangsa dalam menanggulangi defisiensi besi
Danone dengan gerakan nyatanya di bidang pangan dan kesehatan masyarakat



3 comments:

  1. waduh anemia seram banget deh

    ReplyDelete
  2. Mbak... Aku juga nih... Kapan hari ngalamin gejala anemia, tapi nyadarnya setelah hari ke3. Jadi sebelum2nya cuma konsumsi multivitamin dan vit c, madu, dll. Udah mau periksa, baru kepikiran gejalanya kek anemia, langsung minum suplemen Fe, makan ati ayam, makan jeruk, vit C, Alhamdulillah cepet pulih.

    Ngeri ternyata ya dampak anemia

    ReplyDelete
  3. Ibu emang segalanya, guru, dokter pribadi, hingga bendahara rumah tangga

    ReplyDelete

Hai Sahabat,

Terima kasih sudah berkenan datang dan membaca.

Cheers dan Banyak Cinta dari Bali!!

XoXo