We Love with Love Bali, Born with Great Cause

Pandemi yang melanda dunia ini tidak ada yang bisa mendugah bisa berlangsung sampai selama ini, awalnya aku pun berpikir paling pertengahan tahun 2020 sudah berakhir namun siapa sangkah sampai pergantian tahun pandemic masih berlangsung.

Dampaknya? Jangan ditanya! Semua terkena imbas! Semua masyarakat terkena dampaknya, bahkan sampai anak-anak sekolah pun terkena dampaknya. Ada yang mengatakan akan ada kemunduran satu generasi setelah pandemi ini, betapa tidak, begitu pandemi diumumkan mereka tidak ada kesempatan bertatap muka dalam menerima pelajaran sekolah.

Bagaimana dengan ekonomi? Banyak sekali pengusaha yang gulung tikar lantaran tidak mampu bertahan. PHK di mana-mana. Awalnya mereka bisa bertahan sampai pada bulan September akan tetapi setelah itu, sulit mereka bertahan. Apalagi di sektor pariwisata.

Bicara tentang sektor pariwisata, BALI yang mayoritas perngahasilannya dari sektor wisata langsung ambles! Perkembangan ekonomi bertumbuh minus 12 sekan persen. Tentu saja hal ini membuat sedih karena tak banyak yang bisa dilakukan. Banyak lembaga independent bahu membahu saling membantu mengatasi masalah, namun tetap yang dibutuhkan masyarakat tak sekedar bertahan untuk beberapa hari kedepan. Mereka butuh mata pencaharian, karena kami pada umumnya memang tidak suka hidup dari sekedar belas kasihan.


Hal ini membuat Bu Novi Rolastuti mendirikan sebuah Yayasan bernama “We Love with Love Foundation” yang lahir dari rasa cinta dan kasih sayang kepada Tanah Air dengan keragaman kesenian dan kebudayaan pada tanggal 12 November 2020. Melihat banyak seniman dan pelaku usaha kecil kesulitan dalam ketidak pastian kapan pandemi berakhir, Novi mulai bergerak menggalang dana untuk mereka yang paling terdampak dari segi ekonomi.

Bali merupakan awal pergerakan Yayasan We Love With Love. Berdasarkan data BPS, perekonomian Bali tumbuh minus 12.28% dan berdampak bagi perekonomian masyarakat Bali, termasuk seniman dan para pengrajin UMKM sehingga potensi mereka terhambat. Rasa prihatin terhadap situasi ini mendorong Tim Yayasan We Love With Love menjelajahi Bali untuk bertemu dengan para pengrajin dan seniman. Tim We Love With Love mencari tahu kesulitan yang mereka temui selama pandemi. Rendahnya permintaan produk kerajinan, ketidaksiapan menjual secara online, dan sepinya panggung seni menjadi keluhan mereka. 

Sedikit cerita, di awal pandemi aku beserta partner pun sempat membuat kelas coaching digital marketing untuk para rekan-rekan UMKM dengan tujuan agar rekan-rekan UMKM memiliki kemampuan memasarkan produknya secara online. Namun, karena kesibukan kami yang juga terdampak sangat keras oleh pandemi ini, kami tak mampu berkonsentrasi untuk fokuskan diri membantu sahabat-sahabat UMKM.

Oleh karena itu, exciting banget saat kemarin aku mendapatkan undangan untuk acara launching Yayasan We Love with Love ini kemarin siang jam 12.00 WITA Bu Novi bercerita tentang bagaimana Yayasan ini dibangun, tentang visi dan misi beliau dan juga tentang perjalanan beliau.

Beliau juga bercerita, bagaimana kendala yang dihadapi di lapangan. Yup, persis yang pernah aku alami dulu. Kendala yang kami alami di lapangan terlebih pada perbedaan cara pandang. Kalau kami berpikir, mungkin langkah A adalah langkah terbaik, para pengerajin berpikiran lain berdasarkan pengalaman mereka pastinya.

Dalam wawancaranya di acara opening tersebut beliau juga bercerita kalau sampai saat ini sudah bersilaturahmi ke 12 pengerajin di Bali. Tujuannya adalah berdiskusi mengenai kendala dan masalah yang mereka alami di masa pandemi ini beserta berbincang serius untuk melakukan terobosan-terobosan agar mereka bisa survive bahkah shining brighter setelah pandemic.

Lebih lanjut, beliau mengundang kita semua untuk berkontribusi dalam yayasan tersebut sebagai donator, be remember ya! Menjadi donator tidak melulu menyumbangkan uang akan tetapi bisa jadi dengan menyumbangkan skill yang membantu para sahabat UMKM, membantu memasarkan dan atau bahkan membantu melakukan viralisasi produk-produk mereka ke khalayak umum.

Acara Launching Yayasan ini di tutup dengan sebuah suguhan tari bertajuk “Lampah Nini” yang merupakan karya dari seorang Maestro Bu Ni Ketut Arini, seorang Ibu dan guru tari traditional Bali dan I Komang Adi Pranata seorang Master of Art & Kareografer muda Bali yang penuh potensi.



Karya kolaborasi pertama kalinya ini sangat sayang jika dilewatkan dan  lebih dari itu tarian Lampah Nini mengajak kita semua merenungkan dan introspeksi diri atas perjalanan hidup kita sejak kanak-kanak sampai masa dewasa yang penuh dengan gejolak yang terkadang keliru. Mungkinkah kita kembali memperbaiki diri setelah melewati masa-masa sulit dalam hidup ini?

Secara pribadi aku sangat terkesan dan termotivasi untuk bisa melakukan lebih seperti yang di lakukan Bu Novi dengan Yayasan We Love with Love ini. Kalau kemarin sempat down karena lelah, sebab pandemi tak kunjung usai. Setelah menonton acara launching ini aku bertekad untuk doing something lagi. We Love with Love born with great cause! Kita mesti ingat ini.

Kalian yang tidak berkesempatan menonton acara launching kemarin siang masih bisa nonton via Channel We Love with Love, ya! Dan jadilah bagian dari We Love with Love.


2 comments:

  1. Keren ya kak acaranya kemarin hehhehe. Aku suka hal yang berbau seni soalnya

    ReplyDelete
  2. Di Januari udah sempat lihat posting IG teman blogger tentang launching tarian Lampah Nini, udah nungguin di YouTube buat nonton Livenya pula tapi entah salah jadwal atau gimana, jadi nggak dapat nonton secara Live.
    Oh ternyata yayasan We Love With Love ini untuk membangun semangat para pengrajin, seniman dan pelaku UKM di Bali, ya! Salut dengan didirikan yayasan ini oleh Bu Novi untuk saling support dan tetap tangguh di kala pandemi! Kita pasti bisa bersama. Dan menurut saya tidak apa pendidikan tertinggal satu generasi, tidak apa ekonomi mundur sedikit, yang penting kesehatan tetap terjaga, ya... kesehatan mental dan kesehatan fisik. Kalau kita sehat kita bisa kok mengejar ketertinggalan belajar, kalau kita sehat kita adalah sumber daya manusia yang kuat untuk revitalisasi ekonomi lagi. Kalau udah sakit, mau ngapa-ngapain mah nggak enak, jangankan mau produktif, ingin bertahan hidup aja rasanya susah dan tidak menyenangkan. Jadi menurut saya sehat dulu yang diprioritaskan :)

    ReplyDelete

Hai Sahabat,

Terima kasih sudah berkenan datang dan membaca.

Cheers dan Banyak Cinta dari Bali!!

XoXo