Simpati dan Empati, adakah padaku?



Di era informasi digital seperti sekarang ini, para pelaku ekonomi creative berlomba-lomba menyajikan content-content yang bermanfaat sesuai standard mereka masing-masing.

Manfaat sesuai standard  itu bisa jadi:

  1. Bermanfaat sebagai mesin dan pohon uang, di mana content yang dibuat dapat berbuah cuan alias money, money, money dengan memanfaatkan emosi pemirsa atau pembacanya
  2. Bermanfaat bagi orang lain, pembuat content ingin contentnya menyajikan informasi, meberikan inspirasi untuk pemirsa atau pembacanya
  3. Bermanfaat sebagai alat marketing, di mana content tersebut adalah content yang fungsinya persuasi agar orang tertarik terhadap product yang direview di dalam contentnya. Hal ini bisa memberikan manfaat bagi pembuat content dan juga produsen products.

Whatsoever, apapun manfaatnya setidaknya kita tidak lupa akan pentingnya memiliki SIMPATI dan EMPATI. Adakah Simpati dan Empati ini pada diri kita? Mari kita renungkan.



Sympathy dan Empathy tidak selalu tentang penderitaan orang lain, akan tetapi juga tentang masalah-masalah lain. Tentang apa yang kita katakan, informasikan, komentarkan, apakah semua itu sudah lolos dari dua hal tersebut? Jika sudah, maka kita tidak akan memberikan informasi yang salah kepada orang lain. Oleh karena itu, tidak jarang kalau kita menemui orang-orang yang menolak campaign satu product atau jasa yang menurutnya dapat melukai banyak orang. Bahkan, ada beberapa artis tidak mau mengambil job iklan satu produsen suatu kosmetik gara-gara product itu melakukan experiment terhadap binatang dalam proses pembuatannya.

Hanya catatan singkat dari pembicaraan dengan suami kemarin sore, karena ujung dari pembicaraan kami tentang menerima job review, membuat content yang bagaimana yang idealnya boleh kuterima. Karena semua kembali pada tujuan awal aku ngeblog. Dan ini juga awalnya, akhir dari pembahasan tentang Youtuber yang nge-prank Driver Ojol. Siapapun yang nge-prank, siapapun yang di-prank aku ga pernah suka. Aku suka bercanda tapi, itu tadi, sensor dengan Sympathy dan Empathy kalau lolos okay, kalau tidak ya hentikan!

Bahkan, aku pernah menghukum anakku gara-gara dia arahnya nge-prank ayahnya. Ya, nge-prank nya anak usia 4tahun gimana, sih? Tapi, aku katakan pada dia kalau aku tahu dia bercanda, ingin membuat kami tertawa, aku apresiasi apa yang dia lakukan, akan tetapi dengan berbohong seperti itu menjadi tidak lucu. Alhamdulillah, sekarang sudah tidak pernah lagi. Dan dia juga tidak kehilangan selerah humornya. Karena aslinya, kami semua memang sama-sama senang bercanda dan memiliki sense of humor lumayan tinggi, kok.


5 comments:

  1. Kadang saya juga agak bingung, er, saya punya empati dan simpati nga ya.

    Kadang ada sih, karena perasaan-perasaan yang dibagi oleh orang, kadang bisa bikin saya emosi, kesel, seneng, sedih, ngakak, dll :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha......simpati sih biasanya setiap orang ada dan sifatnya spontan.
      Cuma kadang yang bedain kadarnya saja...

      Delete
  2. Saya kepingin menjadi orang baik dan peka terhadap segala hal. Baik sisi manusia maupun teknis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh....sama, saya pun demikian.
      Karena menjadi orang baik itu enak.

      Delete
  3. Sekecil apapun meski hanya sekecil debu, dua hal tersebut wajib dimiliki oleh semua manusia, syukur kalau terus di asah hati kita agar empati dan simpati menjadi dominan dalam setiap langkah kita.

    ReplyDelete

Hai,

Terima kasih sudah membaca.
Silahkan tinggalkan komentar dan pendapat kamu di sini.

Terima kasih dan Salam Hangat dari Bali!

Cheers,