Belajar Makna Hidup Dari Morrie


Sebenarnya tubuh sudah beberapa kali memberikan sinyal, meminta istirahat. Tapi, rasanya bosan dan bukan kebanggaan kalau harus "diam" hanya demi kata "istirahat".


Sampai akhirnya tubuh benar-benar KO tapi tetap, jiwa ini ga bisa diajak kompromi, masih saja mengajak beraktifitas. Di samping merasa memiliki kewajiban. Ya, sudah akhirnya porsi kerja dengan gadget terutama laptop dan HP kukurangi.

Ada hikma dibalik ini, aku bisa menyelesaikan satu buku "Tuesday With Morrie" dalam 3 hari, aku sebenarnya ingin versi aslinya seperti buku "Mitch Albom" lainnya tapi sayang, ga ada di Gramedia. Yasudah kubaca versi terjemahan.

Membaca buku ini bisa bikin nangis juga, atau karena aku yang sedang mellow? Tapi, beneran setelah membaca ini kita bakal lebih belajar untuk menghargai setiap waktu bersama orang tua, pasangan, anak, teman, rekan kerja atau bahkan orang yang baru kita kenal. Saat bersama mereka pusatkan perhatian kita kepada mereka. Tentang menghargai waktu, tubuh dan orang-orang di sekitar kita.

Seperti biasa, karya Mitch Albom selalu sarat akan makna. Seperti yang ku katakan pada suami "baca buku ini ga bisa ada distruksi kalau ingin dapetin isinya".

Buku yang sarat akan makna filosilofi hidup, meski ada satu point yang tidak kusetujui bagaimana Morrie berpikir Tuhan berlebihan menguji keimanan Ayub dengan penyakitnya. Karena bagiku, Tuhan tahu yang terbaik buat kita. Tidak ada satu pun peristiwa terjadi di dalam hidup kita tanpa persetujuan-NYA.

Nilai-nilai apa saja yang aku dapat dari membaca buku ini?

Pertama: Tentang Dunia

Apa yang terpenting dalam hidup adalah belajar caranya memberikan cinta dan membiarkan cinta itu datang.
Kalau kita berpikir cinta membuat kita lembek, lemah, itu salah. Ada ungkapan bujak yang mengatakan "Cinta adalah Satu-satunya perbuatan yang rasional".

Kedua: Mengasihani Diri Sendiri

Ada satu kalimat Morrie ke Mitch, seperti ini:
"Mitch, aku tidak membiarkan diriku hanyut dalam rasa kasihan berlebihan kepada diriku sendiri. Setiap pagi kubiarkan diriku menangis sedikit, tapi hanya itu"

Buatku kalimat ini maknanya sangat dalam. Aku pernah ada diposisi sangat mengasihani diriku sendiri, karena lahir dan berada di lingkungan seperti itu. Seperti ada protes ke Tuhan "Kenapa aku harus lahir di dalam situasi seperti ini?" Namun, dapat menerima keadaanku, memahaminya dan belajar menyikapinya membuatku bisa keluar dari jurang depresi dan mengasihani diri sendiri.

Ada saatnya menangis namun jangam larut dalam tangis. Menangislah satu jam dan kamu punya 23jam untuk bahagia.

Seharusnya aku merasa "beruntung" karena tidak semua orang berkesempatan memperoleh pelajaran hidup seperti itu.

Ketiga: Tentang Penyesalan Diri

Jangan menyesali masa lalu kita, tapi terimalah sebagai anugerah. Karena tidak semua orang memiliki masa lalu seperti milik kita. Tidak ada kata terlambat untuk belajar darinya.

Tidak menyesali dengan apa yang tidak kita lakukan dan yang sudah kita lakukan. Agar mudah kita memaafkan diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian maka kita bisa hidup damai.

Keempat: Tentang Kematian

Point ini yang sebenarnya paling menohok buat aku. Ini seperti teguran agar "aku berpikir aku belum cukup baik, artinya aku harus berusaha untuk terus menjadi baik".

Semua orang tahu mereka akan mati, tapi mereka tidak tahu kapan. Karena jika mereka tahu, maka mereka akan mempersiapkan diri mereka dengan baik. Mengerjakan apa yang belum dikerjakan dan berusaha melakukan segala hal dengan baik.

Bagaimana kalau mulai hari ini kita berpikir "Besok aku bakal mati?" Cukup seram atau menggugah jiwa dan hati kita?

Kelima: Tentang Keluarga

Tidak ada fondasi paling kuat selain keluarga, saling mencintai dan menyayangi. Dengan saling menyayangi kita dapat bertahan sampai sekarang, di muka bumi ini. Morries mengutip kalimat penyair Auden "Saling Mencintai Atau Punah Dari Muka Bumi Ini"

Yang harus kita fahami adalah kita tahu apa yang diinginkan pasangan kita dan sebaliknya lalu kita ada pada frekuensi yang sama, sehingga kita berada pada satu tujuan terus bersama-sama untuk mewujudkannya. Hormati dan berpikiran terbuka terhadap pasangan jika ingin pernikahan kita menjadi akademi yang mendewasakan.

Dan tentang memiliki seorang anak, menurutnya tidak ada penjelasan bijak selain mengatakan "jika kamu ingin memiliki tanggung jawab besar terhadap sesama manusia, maka jadilah orang tua".

Keenam: Tentang Emosi

Mematikan perasaan caranya adalah dengan menerimanya. Mematikan rasa takut ya dengan menerima ketakutan itu bukan melawannya. Sampai akhirnya kita terbiasa dengan rasa itu.

Ini sangat benar. Saat aku takut, aku lewati perasaan itu sampai akhirnya rasa itu tidak terasa kembali. Semua berlaku untuk rasa yang lain, khawatir berlebih dan juga emosi-emosi negative lainnya.

Ketujuh: Tentang Takut Menjadi Tua

Seharusnya kita tidak takut menjadi tua saat kita merasa puas dengan apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Yang membuat kita merasa takut tua adalah rasa belum puas dengan apa yang kita lakukan.

Kedelapan: Tentang Uang

Yang didambahkan oleh seseorang sebenarnya adalah bentuk penghargaan akan cinta, kasih sayang. Namun, di saat orang tersebut tidak mendapatkannya maka mereka mulai mencari dalam bentuk-bentuk lain, mengikat diri pada benda dan harya yang diharapkan semacam kepuasan dari situ. Namun, kita tidak akan pernah mendapatkannya. Karena cinta, kelembutan, keramahan atau rasa persahabatan tidak dapat ditukar dengan harta benda.

Di bagian ini aku ulang beberapa kali untuk mendapatkan maknanya. It's probably right.  Kalau kita sudah cukup dengan apa yang kita dapat dengan cinta, kasih, persahabatan maka harta benda tidak akan kita jadikan symbol melainkan hanya sebagai alat memenuhi kebutuhan. Tidak akan berlomba membeli mobil mewah, rumah mewah atau apapun sebagai symbol dalam suatu komunitas masyarakat karena merasa sudah cukup dengan memakai barang-barang itu sebagai alat memenuhi kebutuhan atau sesuai manfaatnya.

Kesembilan: Tentang Cinta Yang Tak Padam

Percaya dengan manfaat kehadiran seseorang dalam hidup kita seutuhnya. Sehingga setial kehadirannya terasa "penting" buat kita. Dengan demikian kita berusaha melakukan yanh terbaik dan membuat dia merasa bahwa apa yang kita lakukan hanya untuk dia. Sebuah cinta kasih yang tulus mendasari perbuatan ini.

Sanggupkah kita melakukannya? Sedangkan kita selalu tergesa-gesa. Menjawab anak bertanya sambil mata masih ke gadget. Diajak bicara pasangan mata ke televisi. Atau mengesampingkan perasaan orang lain dengan sengaja atau tidak mengabaikannya.

Sangat jahat kita ini, padahal kita tidak tahu suatu saat nanti jangan-jangan kita sangat merindukan kehadirannya.

Cinta yang selalu hangat di dasari oleh rasa "dia penting" dalam hidupku. Apakah dia teman, keluarga, kolega, pasangan atau anak kita.

Kesepuluh: Tentang Budaya

Jika budaya dalam masyarakat kita dibentuk untuk mempercayai bahwa cantik itu langsing putih, meskipun kita tidak mau terjebak dalam budaya itu yang harus kita lakukan adalah menciptakan budaya kita sendiri. Buman menghindarinya.


Bacaan yang bernutrisi dan highly recomended, lho!


Tentunya, setah membaca ini setiap orang memiliki persepsi berbeda tentang nilai-nilai yang didapatnya. Tapi, aku yakin pasti mereka berterima kasih bertemu dengan buku ini.




View this post on Instagram

Mengasihani Diri Sendiri Pernahkah kita ada pada posisi tersebut? Meratapi nasib, kenapa kok hidupku begini? Aku udah pernah. Allah itu ga mungkin menciptakan kita buat hidup penuh luma dan sengsara, cuma kita belum tahu cara memaknainya dan mencari bagian happy-nya, minimal hal positivenya. Kadang bertanya tentang jalan keluar, tapi kita ga pekah dengan jalan yang diberikan-NYA. Membaca buku ini buatku reminder saja tentang memaknai hidup karena perjuangan & pembelajaran kulakukan terus menerus. Ingin tahu lebih banyak makna tersirat buku yang kubaca? Klik Link Di Bio dan mulai rasakan perubahan lebih baik 😍 #selfimprovement #selfimprove #motivasi_indo #motivasibijak #tuesday #tuesdaymotivation #tuesdaywithmorrie #mitchalbom #mitchalbombooks #motivasipengusaha #motivasiweekend #weekend #weekendtime #weekendvibe #weekendmood
A post shared by Hanila PendarBintang (@pendarbintang) on

Comments

  1. Kalau saya mempelajari makna hidup itu dari masalah masalah yang ada, namun setiap masalah itu saya jadikan pelajaran sehingga saya tahu apa arti hidup sebenarnya, salam kenal ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, Mas.
      Benar, Mas. Pas menangkap makna dari buku ini juga semua terkait dengan pengalaman hiduo kita masing-masing tentunya. Ga bisa serta merta kita faham makna sesuatu.

      Delete
  2. Hai Mbak, sepertinya saya harus baca bukunya agar bisa belajar juga dari Mitch Albom. Ada banyak nilai hikmah yang ingin saya petik karena butuh jeda dari rutinitas dunia saya yang bergerak cepat.
    Kabar buku itu sudah saya ketahui pada tahun masih lajang sayang belum kesampaian baca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak.
      terkadang kita dihadapkan dengan pengalaman hidup ga tau di mana maknanya, tapi dengan literasi kita bisa menemukan maknanya. Mempermudah. Recomended banget kok. Saya bahkan lagi beli 2 lagi buku dengan pengarang yang sama.

      Delete
  3. Tentang uang itu sangat menarik ya
    Saya juga lagi menuntaskan buku dengan tema yang hampir sama.
    Jangan hanyut dengan kesedihan, semua pasti akan ada akhirnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener. Menarik sekali insightnya tentang uang.
      Every ending is a new beginning :)

      Delete

Post a Comment