Waspadai Prosa Pembunuh!


Sejatinya Pujian adalah kata-kata positive tentang seseoarang yang diungkapkan dengan jujur dan tulus. Dan seharusnya, hal tersebut membuat orang yang mendengarkannya merasa tersanjung dan juga termotivasi untuk melakukan ssesuatu lebih baik. Itu idealnya.

Namun, dampak dari pujian terkadang berakibat buruk juga. Beberapa orang yang memang membutuhkan pujian cenderung suka memamerkan sesuatu, prestasi atau hal positive lain di dalam dirinya. Pamer, ini ada dua niatan pertama benar-benar pamer dan kedua pamer terselubung dengan niatan ingin memberikan inspirasi, menyindir dan niatan lainnya.

Menjadi racun atau madu, sebuah pujian tergantung bagaimana kita menyikapinya. Perlu kebijaksanaan. Begitu pula dengan caci maki. Kedua hal ini adalah hal ini Puji dan caci adalah dua hal yang memiliki dua sisi yaitu positive dan negative hanya tinggal kita saja bagaimana menyikapinya.


Kalau untuk aku, caci maki dan hinaan akan selalu kujadikan motivasi untuk maju dan menjadi lebih baik. Karena mereka bisa menghina dan mencaciku artinya mereka menemukan kelemahanku dan itu yang harus kuperbaiki. Mereka yang mencaci ini sejatinya sangat baik dan perhatian lho sama kita. Walaupun, ya…. mengingatkan ada banyak cara yang baik sehingga tidak perlu menyakiti.

Lalu bagaimana dengan pujian? Nah, pujian ini yang cenderung berbahaya malahan kalau ke aku. Karena dengan background masa lalauku yang sering kena bully dan caci maki, dikucilkan, pujian bisa saja membuatku terlena jika terus menerus didapatkan. Oleh karena itu aku tidak suka show off tentang suatu prestasi, kebaikan, dan lain-lain. Kalaupun mungkin orang bilang, oh ya pernah? Nah, itu biasanya hanya bertujuan memberikan update atas kegiatanku. Kalau soal anak, hanya menunjukkan kelucuan dan keluguannya. Namun, ya…. memang pujian orang sekarang tak bisa membuatku terlena akan tetapi ingin terus meningkatkan kualitas diri.

Jadi, bukan berarti aku anti cerita bahagianya diriku karena mendapatkan kemenangan ini, achieve ini dan itu. Bukan itu….akan tetapi tetap aku lakukan buat ungkapin bahagia, akan tetapi biasanya aku berhati-hari dalam menyusun kata terutama di media social. Karena salah-salah bisa dianggap pamer, riya’ dan mengharapkan pujian.

Bagi kita yang melihat suatu keburukan pun tak selayaknya mencaci atau hina orang, kalau ingin membenarkan kita bisa benarkan dengan cara yang baik dan tidak menyinggung. Aku percaya semua orang sedang belajar dan berproses menjadi baik. Karene mencaci atau menghina itu bukan bagian dari kita. Kalau pun ingin membahas, bahaslah secara tertutup dan cari kesalahannya lalu jalan keluar untuk perbaikan. Sekali lagi, kita belum tentu lebih baik dari orang lain.

Hinaan dan Pujian bisa jadi menjad PROSA YANG MEMBUNUH.

Membunuh secara fisik? YES! Membunuh secara kreatifitas? BISA JADI! Intinya jangan sampai kita jadi pembunuh.

Kalau pun melihat suatu kebaikan, berikan pujian sewajarnya agar si orang tersbeut terhindar dari sifat sombong. Karena kesombongan seseorang bisa jadi kita yang memancing lho……Dan, itu menjadi salah kita juga hehehe.

Ya…kalau dipikir-pikir sebagai manusia ini kita emang jangan kebanayakan bicara jika tidak penting ya? Hehehehe. Kalau hobby bicara apa mending ambil profesi jadi penyiar radio, MC, pembicara gitu ya? Atau buat jualan! Hahahha. Aku sih, moody. Kadang suka bicara namun ga semua hal aku ingin bicarakan dan komentari.

Paragraph di atas opini kasar doang, abaikan deh ya…hehehe.
Kalau nasehat suami sih begini “Jangan suka campurin urusan orang kalau kita ga banyak membantu. Jangan Komentar terhadap apa yang kita ga tahu ilmunya biar ga blunder”. Ya, karena aku istri yang baik insyaallah aku inget terus itu nasehatnya, hehehe.

Have a great day kawan…..

No comments:

Post a Comment

Hai,

Terima kasih sudah membaca.
Silahkan tinggalkan komentar dan pendapat kamu di sini.

Terima kasih dan Salam Hangat dari Bali!

Cheers,