Unschooling

Zafa di bulan Desember ini sudah genap 5 (lima) tahun, wuih..sungguh waktu itu sangat cepat berlalu. Sepertinya sih, baru kemarin dia baru lahir kok tiba-tiba saja sudah mau lima tahun. Alhamdulillah, aku melihatnya dia tumbuh sebagai anak yang sehat, ceria dan bahagia. Lalu, apakah aku sudah bisa berpuas diri? Ah....jauh dari kata puas, meskipun aku pasti bangga dengan anakku.

Setiap Anak Terlahir Unik

Benar sekali. Setiap anak terlahir unik, begitu pula dengan Zafa, dia memiliki keunikan yang tidak dimiliki anak lain. Dia sangat lincah, full of energy, punya kecerdasan emosi yang baik, penyayang dan memiliki sense humor yang menurutku sih, sedikit di atas rata-rata anak seumur dia kebanyakan. Nah, masalah sense of humor ini sih memang GEN. Jadi, di dalam gen kami mengalor darah "MBANYOL KONYOL" makanya, Zafa ya ga jauh-jauh dari itu.

Tidak Mau Sekolah

Dari awal aku memang tidak mau memasukkan dia ke PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini karena waktuku lebih banyak di rumah. Lagi pula 3tahun lalu aku memutuskan resign dari kerja kan karena ingin dekat dengan Zafa. Namun, saat memasuki TK tentu saja beda. Aku ingin memasukkan dia ke TK, namun dia menolak. Dia bilang tidak suka sekolah. Well, yah.....mau gimana, aku dulu juga tidak suka sekolah. Aku pikir dia nanti juga ada usia di mana mau sekolah, ya kan?

Kalau ditanya "Zafa kenapa tidak mau sekolah" dia akan jawab "nanti Zafa capek" Hahaha, ini sih alasan persis aku dulu. Ya, aku harus bersabar.
Ada latar belakang, selain keturunan kenapa dia tidak mau sekolah yaitu motorik kasarnya belum sempurna. Dia belum bisa memegang pensil dengan sempurna. Jadi, saat dipaksa belajar menulis dia pun akan cepat capek. Aku ga mau dia trauma jadi ga mau memaksanya.

Belajar Sendiri

Jadi, meskipun Zafa tidak sekolah aku yakin nanti saat sekolah Zafa akan bisa mengejar teman-temannya yang sudah sekolah duluan. Dulu, aku punya pengalaman memberikan les private anak-anak usia TK - SD namun, handling Zafa atau anak sendiri ternyata beda lho! 

Namun, untungnya Zafa bisa belajar sendiri sehingga dia sudah hafal berhitung 1 - 20 dan juga Alphabet meskipun yang dia hafal yang Bahasa Inggris. Lagi, aku ga mau memaksa. Dia juga berusaha belajar berhitung yang Bahasa Indonesia dan mulai bisa 1 - 10 untuk alphabet dia masih bingung.

Apa dong fungsiku di sini? Hanya meluruskan jika dia salah. Biarkan dia enjoy belajar sendiri. Aku hanya menfasilitasi, seperti membelikannya puzzle sesuai permintaan dia. Apalagi Zafa ini ga suka disuruh-suruh, jadi dia seperti tahu apa yang dia mau dan butuhkan. Contohnya sore ini tadi saat mandi, tiba-tiba saja dia bilang "Mommy, what day is today?" aku amaze dong, kok tiba-tiba dia nanya gitu. Artinya, aku bisa mulai ajarin dia belajar nama-nama hari.

Melihat  gejala ini, setelah aku jawab "Today is Wednesday, bagaimana kalau hari ini kita belajar tentang nama-nama hari, baby?"tapi sayang Zafa langsung menolak kuat. "No, Mommy. Cancel saja. I dont like it. Zafa ga mau study" Urung sudah niat mau ngajarin dia.

Zafa memiliki kecenderungan ingin belajar sendiri. Seperti belajar Bahasa misalnya, selama ini dia bisa sendiri bicara Bahasa Inggris padahal selama ini kami bicara Bahasa Indonesia. Tugasku ya cuma ngelurusin dan menfasilitasi saja agar dia tidak merasa sendirian.

Belajar ngaji, belum mau. Dia berhenti belajar hanya sampai "Tsa" gak mau lagi. Sekarang lagi ngebujuk buat belajar sama guru private di TPQ.

Stay Happy

Kalau dipikir lagi, jika anak kita tidak mau sekolah jadinya kita kan sedih ya? Tapi, jika melihat anak ceria, bahagia dan punya rasa ingin tahu yang lumayan tinggi terhadap sesuatu kita ga usah terlalu khawatir juga. Anak ga mau sekolah kan bukan berarti ga suka belajar. Cuma mereka, anak-anak ini memang memiliki cara sendiri dalam belajar dalam memenuhi rasa ingin tahunya. Yang terpenting besarkan anak-anak dengan bahagia.









Comments