Tjut Nya Dhien, symbol Ksatria Perempuan Indonesia


Kembali ke masa lalu, saat masih SD aku yang sebetulnya tidak menyukai pelajaran sejarah setiap kali guru sejarah bercerita tentang Tjut Nya Dhien, di kapalaku langsung terpapar gambaran seorang ksatria wanita yang mengayunkan pedang panjang di atas kuda memimpin pasukan besar melawan Belanda.



Dan itu terjadi setiap kali aku membaca atau mendengarkan cerita sejarah tentang Tjut Nya Dhien sampai sekarang lho! Walaupun aku sendiri tak pernah menjumpahi gambar Tjut Nya Dhien mengayunkan pedang di medan perang, hehehe. Aku, yang secara fisik bukanlah perempuan perkasa seperti Tjut Nya Dhien ga heran-lah ya kalau mengidolakan sosoknya yang perkasa. Buat aku perempuan itu memang sejatinya harus seperti itu. Kuat, berkarakter dan memberikan sumbangsih terhadap lingkungannya apalagi terhadap negaranya seperti Tjut Nya Dhien.


Oleh karena itu dahulu, sebelum menikah aku pasti mengajukan syarat kalau aku harus tetap  boleh bekerja. Karena dengan bekerja inilah aku bisa memberikan sumbangsih ku terhadap lingkunganku terdekat. Meskipun menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga aku gak mau dong menjadi wanita yang hanya ngarep dari suami. Aku gak mau apa-apa berdasarkan suami. Dalam artian bukan berarti aku meremehkan suami, tentu saja tidak.

Yang kumaksud adalah sebagai perempuan kita harus tetap diberikan kesempatan untuk memiliki impian dan mengejarnya. Kendati, kita memiliki suami sebagai pemimpin kita harus didengarkan dan kita pun harus memiliki sikap.



Kekuatan kita sebagai seorang perempuan ga harus pada fisik sih, beliau hanya gambaran keperkasaan dan symbol kstaria wanita yang menginspirasi semua orang tidak hanya kaum wanita saja. Sehingga bisa diterima sebagai seorang pemimpin

Jadi, meskipun aku mungkin tidak sehebat Tjut Nya Dhien aku berusaha terus memberikan sumbangsihku berupa bantuan yang sesuai kemampuanlah dan juga memberikan positive vibe untuk sekeliling melalui kapasitasku sebagai ibu rumah tangga dan juga entrepreneur.



View this post on Instagram

A post shared by Hanila PendarBintang (@pendarbintang) on

Comments