Minimalis untuk Maksimal


Gaya Hidup Minimalis, emang kurang minimalis gimana sih kita selama ini? Ya Allah....kalau dipikir-pikir hidupku udah cukup minimalis, sampai-sampai kadang ingin belanja baju, sepatu, tas online hanya kumasukin keranjang tanoa checkout! Hahahaha

Kalau itu sih bukan minimalis ya? Tapi, aku emang lagi menghemat jajan yang ga penting-penting amat karena sekarang jajannya lebih ke jajannya anak yang mgedukung pendidikan dia. Maklum, si kecil yang udah 4.5th belum mau sekolah jadi emaknya harus aktif kasih mainan atau beli bahkan pergi ke suatu tempat agar si anak punya activity dan belajar! Ya, otomatis duit jajan emaknya pindah pos kesana. Xixixixi.


Selama ini sih, aku ga pernah kepikiran buat hidup minimalis yang extreme gitu. Namun, aku cuma berusaha hidup dengan cara-cara simple. Bahkan, sampai pada pertimbangan membeli barang aku pun berpikir tentang azas manfaat bukan lagi merk kaya dulu. Ada sih yang pernah bertanya, tepatnya bertanya yang mengandung pertanyaan ragu "standard hidup kamu menurun dibanding sebelum menikah dong, ya?"

Jawabanku atas pertanyaan itu, iya dan tidak. Iya, dalam hal belanja dan tidak dalam hal kualitas hidup. Karena dengan melakukan hal ini aku artinya bisa lebih menahan diri dan lebih bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Belanja-belanja kadang masih kulakukan, akan tetapi sebelumnya aku lakukan sortir untuk hal-hal yang kuanggap sudah tidak lagi aku pakai atau lama kuanggurkan.

Aku pun mulai mengajarkan Zafa melakukan itu terhadap baju dan mainannya. Dia mulai ngerti, kalau bajunya sudah kecil dia akan bilang itu untuk adik Al (sepupunya) sedang pada mainan dia bilang mau dibawah ke Pantai Asuhan (maksud dia Panti tapi biar gampang ingat dia sebut pantai). Tidak cuma pada Zafa, Bunda dan Mama mertuaku pun kuajak melakukan yang sama.


Intinya sih sepemahamanku tentang suatu barang adalah "Jangan menyimpan barang yang ga kepakai lagi, entar dosa karena Tuhan akan meminta pertanggung jawaban atas barang-barang itu" lagipula barang-barang sifatnya konsumtif itu ga bisa disimpan lama. Yang bisa disimpan lama ya jenis barang-barang tetap dan ga berkurang nilainya.

Lagi pula ya, kalau aku pikir-pikir lagi ngapain juga numpuk barang-barang yang endingnya ga kepakai dan tidak mengandung unsur investasi apapun untuk masa depan. Aku malah mikirnya, kalau kita sumbangin akan jadi amal jariyah kan ya? Bahkan aku punya pemikiran juga tentang property, bolehlah imvestasi tapi ga perlu berlebih kenapa ga diwakafkan saja?  Lagi-lagi ini untuk investasi di akherat. Jadi, sebenarnya pemikiranku ini sejalan dengan impianku membangun rumah yayasan buat anak-anak yatim yang terlantar dan butuh pendidikan.

Dari sisi psikologi gaya hidup minimalis bagus juga, di samping bisa menahan diri kita pun latihan hidup dalam kesederhanaan, kita pun bisa lebih peduli memikirkan orang lain plus berpikir visionaris terhadap masa mendatang. Susah atau tidak? Tidak susah kalau kita sudah mulai bisa memberikan pemahaman pada diri kita, bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tips dari aku sih, hanya satu setiap mau beli barang atau menyimpan barang selalu review itu manfaat atau kegunaannya. Kalau sudah tidak memberi manfaat lagi ya sudsh singkirkan. Sumbangkan.

Comments

  1. Bicara soal gaya hidup minimalis, good news-nya adalah tidak ada aturan baku tentang seperti apa hidup minimalis itu.

    Tiap orang berbeda. Gaya hidup minimalis si single tentunya beda dengan mereka yang sudah berpasangan, atau yang sudah beranak pinak.

    Intinya adalah (menurut saya), hidup minimalis bukan soal memiliki sesedikit mungkin barang, melainkan hanya memiliki barang-barang yang diperlukan, bernilai, dan membuat kita bahagia.

    Mudah? Nggak, cuma sederhana dan siapapun (yang mau) pasti bisa.

    ReplyDelete
  2. Benar sekali, Kak.
    Setuju banget, ga ada standard bakunya.
    Dan minimalis emang lebih mudah jika artikan sederhana saja. ga berlebihan.

    ReplyDelete

Post a Comment