MENULIS SARANA BERMAIN SI INTROVERT


Yeee…..akhirnya aku harus bercerita tentang masa kecilku yang penuh dengan kenangan tak terlupakan. Jika orang bertemu dengan kau sekarang, mereka gak percaya banget kalau aku ceritain aku “INTROVERT” karena aku sekarang sudah bisa menikmati berada di keramaian dan juga lebih terbuka meskipun, tetap pilih-pilih orang. Yang pasti, aku sekarang beneran berbeda.

Sepertinya, jika semua cerita-cerita dalam hidup kita kita ungkapkan meski hanya lewat tulisan ga peduli dibaca orang apa tidak akan membuat kita terlepas dari emosi masa lalu dan itu akan membuat kita lebih mudah memaafkan diri sendiri, kalau sudah bisa memaafkan diri sendiri sih akan lebih mudah memaafkan orang lain dan lebih bahagia pastinya.


Lahirnya semua kepribadian introvert itu sebenarnya aku percaya karena latar belakangku yang selalu dikurung oleh orang tua. Orang tuaku, termasuk sangat protective dikarenakan dulu semasa balita aku pernah sakit parah dan sampai mati suri beberapa jam, lalu Alhamdulillah sama ALLAH dikasih kehidupan kembali. Dari situ orang tuaku jadinya over protective, disamping memang aku diawasi super ketat oleh Kakekku yang lebih over protective dari orang tuaku sendiri. Jadi, kesimpulannya segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup itu memang ada hukum sebab akibat.

Dan aku kecil pun ga kreatif-kreatif amat, tahu sendiri. Anak-anak yang ga boleh ini dan itu akhirnya kreatifitasnya terkekang. Meskipun aku sebenarnya sangat suka “play role” namun karena ga ada teman, akhirnya aku sering bicara sendiri saja. Aku bermain seolah memiliki teman.

Sampai akhirnya, aku memasuki usia sekolah yaitu 6tahun. Aku ingin sekali sekolah agar punya teman, agar bisa jajan. Kenyataannya, meskipun iya aku punya teman tapi tetap aku ada pada pengawasan, aku ga bisa jajan seperti teman-teman lainnya. Apapun yang kulakukan dibatasi. Orang bilang, aku kecil sangat lucu dan cantik. Pipi chubby, kulit putih bersih, bibir merah dan rambut tebal hitam legam. Tapi, aku ga ramah, aku jarang tersenyum.


Aku melewati kelas satu hanya dengan bermain serta belajar menulis dan membaca, namun itu tidak membuatku bisa membaca. Tapi, pas kelas dua baru aku bisa membaca.  Ternyata bisa membaca itu menyenangkan sekali. Aku bisa tahu apa yang ada di koran, TV atau di kardus-kardus pembungkus yang biasa aku temui saat ibuku bersih-bersih, hehehehe.

Dan pada suatu hari, saat itu aku ingin sekali bermain sedang ibuku sibuk dengan pekerjaannya membuat jala ikan, aku minta ditemaninya bermain, karena teman bermainku ya Apap dan Bunda. Tapi, Bunda bilang ga bisa sebab ada orang mau ambil jala ikan itu secepatnya. Aku sedih, sekali. Aku menangis di bawah kursi, sambal membawah buku tulis dan pensil. Berawal dari sana aku mulai menuliskan perasaanku sampai rasa sebal dan sedihku hilang. Lalu, setelahnya entah dari mana datangnya ide aku menulis puisi yang puisi itu sempat aku presentasikan di depan kelas. Guru wali kelasku heran dan bangga padaku, karena aku yang masih kelas dua sudah bisa bikin puisi.

Kala itu jala yang dijual bikinan Bundaku lumayan mahal karena Bunda atau papaku ini terkenal tukang bikin jala ikan dengan kualitas terbaik sehingga harganya lebih mahal dari tukang bikin jala yang lain. Ibuku ibu RT biasa dengan sampingan membuat jala seperti itu. Sedang Papa ku kerjanya jarang pulang. Dia harus ambil ikan, mengirimnya ke Bali, bahkan pernah juga pergi keluar Jawa dan gak pulang berbulan-bulan.

Dan, dari situ aku sudah tidak mulai kesepian karena teman bermainku buku tulis dan pensil. Aku mulai senang menulis puisi dan cerita. Kadang aku berkhayal jadi orang lain. Berkhayal jadi anak yang bebas melakukan apa saja tanpa dicereweti ibunya, bebas meminta mainan apa saja karena ibunya punya uang banyak, bebas pokoknya.

Masa kecilku mungkin tak seindah teman-teman lain, tapi aku percaya ada yang memiliki masa kecil lebih menyedihkan dari aku. Karena kami hidup di kampung. Aku menemui banyak masa kecil teman-temanku dihabiskan membantu orang tuanya di kebun, entah membantu bertani, mencari kayu atau gembala binatang ternak.

Selalu bersyukur dengan hidup yang ALLAH berikan kepadaku. Bersyukur untuk masa kecilku. Karena dengan menjadikan kegiatan menulis sebagai hobby aku pun mulai suka membaca, sehingga sering ikut lomba, menang atau tidak aku menyukainya. Dan aku pun tidak merasa kesepian lagi.



Comments

  1. menulis memang membuat hati lega mbak
    jauh lebih lega dibandingkan kata-kata
    aku menulis juga sejak kecil kok
    jadi sampe besar ketagihan hehe

    ReplyDelete
  2. Biasanya orang yang berani menuliskan perasaannya dengan benar lebih memiliki cara kelola emosi yang baik ya.... :)

    ReplyDelete
  3. Tidak ada kegiatan yang paling menyenangkan bagiku selain membaca, menulis dan hunting foto
    Semuanya bisa membuatku enjoy dan sejenak melupakan masalah pribadi

    ReplyDelete
  4. Karena masing-masing orang memang memiliki cara sendiri untuk escaping ya, Mbak....

    ReplyDelete

Post a Comment