Kembangkan EQ Anak

Anak-anak itu mendapatkan kecerdasan ibunya, makanya penting ni buat para lelaki mencari istri yang cerdas, xixixixi. Kidding! But, this is true! Bahwasannya, anak mendapatkan kecerdasan anaknya. Dan itulah kenapa aku ga pernah memaksakan Zafa buat menjadi anak super jenius yang hafal ini dan itu karena aku jauuuuuh dari itu.

Karena itu, akhirnya aku fokus mengembangkan EQ atau Emotional Quotient-nya. Tapi, bukan berarti aku ga peduli dengan perkembangan IQ-nya juga.  Tetap, sih. Kenapa aku fokuskan perkembangan EQ-nya terdahulu? Karena aku tahu, dengan kecerdasan EQ yang baik insyaallah dia ada kemauan belajar yang mengembangkan IQ-nya.

Berikut 4 cara yang kupakai melatih perkembangan EQ Zafa:

1. Melatih Kepekaan Perasaan Dia

Misalkan saja, saat dia menangis atau kecewa dan sedih aku akan memeluk dia, menenangkan dia sambil bilang "Mami sayang sekali sama Zafa, jangan sedih lagi ya, Sayang...." Dan di waktu lain, saat melihatku sedih dia pun datang memelukku sambil bilang "I love you".

Yes, sebagai orang tua kita jangan pelit untuk sering mengatakan sayang pada anak. Itu cara melatih ungkapkan perasaan anak.

2. Melatih Empati

Biasanya, kalau sudah malam kami bilang ke dia "Its already late, baby. Kalau bicara pelan-pelan ya..? Baby kalau lagi bobo pasti ga suka kan kalau ada yang berisik?" dia pun mengangguk dan mengerti. 

Latih anak untuk berdiri di posisi orang lain, namun jangan yang terlampau complecated. 

Melatih Empati biasanya nyambung dengan melatih simpati terhadap orang lain. Misalkan saat beli snack mencoba kita ingatkan "Nenek dan Kakek ga dibeliin, ni?" dan lain sebagainya.

3. Kembangkan Kesadaran Diri

Kesadaran diri seperti apa? Misalkan di suatu taman bermain, anak kita mulai memilih teman ya kita harus kasih tahu bahwasannya dia harus berteman dengan semua orang di situ, ga boleh pilih-pilih. Apalagi sampai memilih salah satu yang kulitnya bersih, bajunya bersih.

Untuk hal ini, kadang aku harus sering ingatkan Zafa karena dia kadang ga mau berteman dengan anak yang menurut dia kotor atau jorok. Ish, ish, ish......minta dijitak.

Dalam melatih kesadaran diri ini kita bisa juga tambahkan tanggung jawab. Minta anak menolong kita melakukan pekerjaan rumah atau hal-hal kecil lainnya yang tidak membahayakan. 

Kalau Zafa biasanya akan otomatis buang sampah ke tong sampah luar jika tong sampah di kamar penuh, menolong mengambilkan saya minum atau ngeberesin piring setelah kami makan.

4. Melatih Dia Untuk Belajar Banyak Mendengarkan

Beberapa anak tidak mau diajak bicara oleh orang tuanya. Pas diajak bicara langsung ngeloyor pergi, karena mereka belum faham pentingnya keterampilan mendengar.

Zafa juga bukan teman curhat yang Super kok, cuman ya gitu dia bisa diajak cerita. Kalau aku ceritain sesuatu dia mendengarkan dan menanggapi dengan pertanyaan. Tidak bisa selama kita orang dewasa pastinya kalau diajak ngobrol, bisa diajak ngobrol 5menit saja artinya udah bagus banget lho.

Dan penting kiranya yang melatih EQ anak adalah kita, Maminya. Karena ini salah satu bentuk proses pembentukan karakter anak kita. Anak-anak yang karakternya kuat terbentuk di rumah biasanya tidak mudah terpengaruh oleh teman-temannya.

2 comments:

  1. Huaaa mba aku masih banyak peer nie.. perlu di ajarin satu2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bismilah, Arzan anak yang manis, dia dasarnya EZ-nya tinggi.
      salah satu ciri anak EQ tinggi anaknya mau dipeluk, dicium seperti Arzan.

      Delete

Hai,

Terima kasih sudah membaca.
Silahkan tinggalkan komentar dan pendapat kamu di sini.

Terima kasih dan Salam Hangat dari Bali!

Cheers,