Agent of Change Cinta Zakat dan Wakaf


Kita semua pada tahu-lah ya, kalau Indoensia ini 80% warga negaranya adalah Muslim, maka sangat ga heran dong kalau ekonomi syariah semakin berkembang di negara kita ini. Lagi pula ekonomi syariah ini tujuannya baik, kok. Yaitu bertujuan untuk tercapai kesuksesan dalam hal materiil dan spiritual dunia dan akherat secara merata.

Lha, ekonomi syariah sendiri apa sih? Lebih mudahnya sih, aku bisa bilang kalau ekonomi Syariah adalah ekonomi yang berlandaskan syariat Islam.

Sebagai seorang Muslim dan pelaku ekonomi, memahami tujuan ekonomi syariah ini sangat penting agar ada keseimbangan antara dunia dan akherat. Dalem banget, kan? Ya, tapi begitulah. Hanya saja, selama ini kami (aku dan partner) sebagai seorang yang terus berproses menjadi Muslimah yang baik memang belum faham kalau ada yang namanya Zakat penghasilan. Yang kami fahami hanya tentang sedekah. Di mana kami sisihkan 10% profit bruto kami anggarkan untuk charity.

Nah, di 29 dan 30 Agustus kemarin aku pun berkesempatan mengikuti program “Lokalatih Mahasiswa Agent of Change Ekonomi Syariah” yang dipersembahkan oleh Bimas Islam Provinsi Bali bersama adik-adik mahasiswa terpilih dan juga penyuluh non ASN. Dalam program ini aku tuh jadi faham banget, kalau ekonomi syariah itu ruang lingkupnya bukan Cuma bank syariah, pegadaian syariah akan tetapi semua bentuk kegiatan keuangan yang berbasis Syariah masuk dalam Ekonomi Syariah termasuk Zakat dan Wakaf.


Dalam program yang dicanangkan Bimas Islam Provinsi Bali ini mendekatkan kaum milineal dengan Zakat dan Wakaf. Fantastik banget! Acara ini sangat melekat. Walaupun aku bisa bilang kalau hal seperti ini tidak bisa berhenti sampai di sini, jadi harus ada campaign secara berkelanjutan agar semua masyarakat bisa menerima dan menjadikan Zakat dan Wakaf sebagai gaya hidup. Kenapa sampai dibutuhkan adanya sosialisasi tentang hal ini? Ya, pasti dikarenakan adanya urgensi kepatuhan Syariah yang bertujuan:

  1. Pelakasanaan kepatuhan Syariah untuk memastikan pengumpulan, pendistribusian, dan pemberdayaan zakat serta penggunaan hak amil dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
  2. Prinsip-pinsip Syariah dalam operasional lembaga pengelolaan zakat melalui azas-azas tercantum di dalam undang-undang pengelolaan zakat, UU No. 23 Tahun 2011.

Pengelolaan zakat dan wakaf ini diharapkan bisa dikelola oleh SDM ahli sehingga selain penyaluran konsumtif seperti kebutuhan pangan bisa juga pengelolaan secara productive sehingga dana yang terkumpul hasilnya bisa dibagikan secara rata dan menyeluruh.


Tahu gak sih, kalau di Bali sendiri memiliki program regular dari pengumpulan zakat yang sangat keren yaitu bedah rumah. Dan yang berhak mendapatkan bantuan ini semua fakir miskin ga pandang bulu. Karena memang, zakat sendiri ditujukan juga sebagai siar. Untuk Baznas serta lembaga zakat resmi seperti Dompet Dhuafa, malahan sudah memiliki yang namanya program kampung zakat yang saat ini sudah menyebar ke 14 titik di seluruh Indonesia. Yang tentu saja ya, program ini sudah terintegrasi dengan lima sector yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan, pendidikan, dakwah serta social-ekonomi.

Adapun kampun Zakat ini harus memenuhi persyaratan 3T yaitu Terpencil, Terjauh dan Tertinggal. Dengan mengetahui hal ini maka diharapkan sih kita semua bisa lebih bersemangat menyalurkan zakat ke lembaga-lembaga resmi yang ada. Apalagi pengumpulan zakat ini bisa dilakukan melalui ATM jadi lebih mudah gitu.

Sudah tahu kan berapa persentase Zakat yang harus kita bayarkan? Ingat lho Zakat itu banyak macamnya. Meskipun menurut Ustadz hanya ada dua yaitu Zakat Fitrah dan Mal. Namun turunannya, ada yang namanya zakat profesi, penghasilan, perdagangan dan lain-lain. Tapi, tahu kan kalau Zakat ini beda dengan sedekah, gengs?

Itu mengenai Zakat, bagaimana dengan wakaf? Wakaf ini kan penyisihan sebagain harta kita yang ditujukan untuk kemaslahatan semua umat jadi diprogramkan dengan memberikan perlindungan payung hukum untuk pelaksanaannya agar benar-benar sesuai syariat. Salah satunya memberikan sertifikat untuk tanah-tanah wakaf. Adapun tentang hal perihal wakaf, adab, dan hal-hal detail lainnya semua bisa kita konsultasikan ke BWI atau Lembaga Wakaf Indonesia.

Jika selama ini yang kita fahami wakaf itu hanya berupa tanah, tidak demikian bisa juga melalui uang yang dikelola dan hasilnya untuk kemaslahatan umat. Wakaf pun bisa dilakukan patungan. Nah,…..ga harus nunggu kaya raya gengs, buat bisa wakaf, hehehe.

Aku berpikir demikian, lho. Masyarakat Indonesia, kita inilah maksudnya untuk berbuat baik kadang memang harus dipaksakan. Kenapa? Karena kita ini kadang sering banget merasa ga punya padahal punya sehingga seolah sangat permissive dan dengan mudah berpendapat “Ah…aku ga ada cukup harta buat wakaf” padahal banyak cara untuk wakaf. Inget ya, kan kita mau jadikan wakaf ini gaya hidup. Sangat ringanlah langkah kita jika semua terbiasa. Akhir kata, semoga kita semua menjadi golongan orang-orang yang sangat ringan dalam berzakat dan berwakaf serta berbuat kebaikan lainnya.

Jujur, Lokalatih Mahasiswa Agent of Change ini sangat enlighten dan diharapkan dapat menggugah diri kita, serta dapat mengajak masyarakat untuk mencintai Zakat dan Wakaf. Aku sih, menunggu program lanjutan Lokalatih ini yaitu berupah campaign regular dan ter-schedule oleh para agent tanpa harus diingatkan.  Janganlah hanya anget-anget tai ayam, yang semangat di awal saja setelah itu mlempem, karena dengan demikian artinya program dari Bimas Islam Provinsi Bali ga berhasil. Untuk Bimas Islam sendiri, aku berharap mau terus memberikan dorongan agar para agent ingat dengan visi dan misi mereka, juga dapat menerima ide serta usulan bagaimana bisa menggemahkan program-program Bimas Islam yang ditujukan untuk membangun umat.

Comments