Terungkap: Ini penyebab utama GERD!

Belakangan ini aku terusik ingin sekali sharing pengalaman tentang GERD yang pernah kualami, mungkin sepuluh tahunan kebelakang, ya? Kenapa demikian? Karena sahabat, teman, keluarga, akhir-akhir ini banyak sekali yang mengeluhkan sakit di dada, sesak panas. Yang setelah kuanalisa, lha mereka ini sih mengidap GERD yang pernah kualami dulu.

GERD atau Gastroephageal Reflux diseas apabila diterjemahkan secara harfiah adalah penyakit lambung karena refluxz asam lambung. Yang menyebabkan perasaan terbakar di dada atau istilahnya heartburn dan regurgitasu asam lambung dalam perut, menurut Dr. Andri, SpKJ yang pernah di muat di Kompas.com.


Berbagai diet, obat boleh di coba. Bahkan saya bisa katakan, atur pola makan yang sehat jika ingin mengurangi gejalanya. Saya ga makan raw food atau diet-diet yang mungkin sering ditawarkan oleh tean-teman. Aku hanya ikut apa nasehat dokter yang menanganiku saat itu. Kurangi makanan mengandung lemak. Bukan ga makan sama sekali akan tetapi yang penting ketahui porsinya, jangan sasak saja.

Aku kenal siapa diriku, orang yang kalau sudah satu makanan ga pandai ngerem. Akhirnya, selama 3 atau 4 tahun sama menjalani pola makan semi vegetarian, karena kalau kepingin aku masih makan daging olahannya kaya bakso, nugget dan yoghurt. Lain dari itu, akupun yang penyuka susu, berhenti minum susu dan tidak makan daging putih and merah. 

Effect-nya? Memang luar biasa. Badan jadi lebih ringan dan jadi lebih sehat. Namun, karena berat badan makin turun (dalam artian tetap sehat) akhirnya Bunda menyarankan untuk berhenti diet semi vegetarian tersebut. Karena, dengan BB hanya 42kg - 44kg, aku yang bertulang besar kelihatan jelek banget katanya. Makan saja semua, yang penting semua sesuai porsinya.

Memiliki kehidupan yang seimbang menjadi salah satu cara untuk mengurangi kecemasan yang berlebihan dan tentu yang tak kalah penting, miliki positive thinking terhadap hidup.

Please note, ya! Tentu saja diet semi Vegetarian itu dibarengi dengan obat dari dokter saat itu.

Namun, kawan tahukah kalian semua bahwasannya diet, obat-obatan itu sifatnya hanya sementara karena GERD adalah penyakit yang dipicu oleh kecemasan dan panik yang berlebih sehingga asam lambung naik sampai tenggorokan, effectnya panas di dada.

Jika melakukan kilas balik lagi, semua ada benarnya. Saat itu adalah masa aku masih sibuk mencari cara mengatasi trauma, sakit hati dan semua konflik yang saat itu sedang melanda kehidupan cinta, keluarga bahkan pekerjaan.

Dalam masa penyembuhan, 4 tahun itu kondisi lumayan enak dan terus membaik karena saat itu aku juga dikenalkan dengan meditasi. Dalam meditasi, aku pun belajar tentang bagaimana mengontrol emosi serta energy negative yang hanya menggerogoti energy juga kesehatan tubuh.

Sampai pada akhirnya, aku masuk kerja di suatu perusahaan multinational. 2 - 3 tahun awal, saat belum memiliki posisi penting dalam perusahaan semua biasa saja. Namun, setelahnya tingkat stress dan kecemasan tinggi membuatku gampang sakit dan drop. Katakanlah, si GERD ini kadang muncul dan tidak hanya GERD muncul sakit kepala, punggung kaku dan lain sebagainya. Semua berlangsung terus dan kurasa semakin buruk saja apalagi sampai aku memiliki anak. Kupikir, ini tidak bisa dibiarkan.

Akhirnya, aku mengambil keputusan resign dan dalam masa itu aku berproses memperbaiki diri. Memperbaiki diri di sini dalam artian, melakukan pengembangan diri terutama ibadah terhadap Allah SWT. Dan alhamdulillah, paling sakit yang kuderita flu dan masuk angin. Masuk angin ini memang yang paling parah, mungkin juga faktor usia, hehehehe. Biasanya sih, kalau capek gitu gampang masuk angin.

Ini masih tentang apa yang kualami sendiri, belum yang dialami Bunda dan Mama mertuaku. Rasanya kalau diceritakan butuh artikel tersendiri, hehehe.

So, I can say sumber dari segala sumber penyakit apapun itu adalah PIKIRAN. Please have a good live. Selama kita hidup, masalah ga akan pernah habis, sekarang sih pikirin saja "how to deal with it" karena kita ga mungkin bisa menghindar. Semua orang memiliki masalahnya sendiri, kok. Dan semua itulah yang membentuk kita. Mau larut dalam masalah atau focus pada masa depan dengan membuat resolusi dan solusi? Itu semua pilihan kita.




No comments:

Post a Comment