JANJI - Part 1

Cahaya matahari yang memasuki celah-celah kelampu kamar yang sedikit tersingkap membangunkanku. Aku terkejut karena mendapati diri terbangun di pelukan seseorang yang tak begitu aku kenal. Ada apa dengan diriku? Siapa dirinya? Aku tidak mengingatnya tapi, aku merasa tahu siapa dirinya.

Siapa dia? aku berusaha mengingatnya dengan keras sambil pelan-pelan kugeser kepalaku. Dia tidak mungkin bukan siapa-siapa yang rela menjadi sandaranku dengan posisi duduk di sofa seperti ini. Semakin keras aku mencoba memaksakan diri semakin aku sulit mengingatnya.

"Hai, kamu sudah bangun?" suara itu sdikit membuatku terkejut, dia terbangun saat aku berusaha mengangkat kepalaku. Aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku, tersenyum. Bukan hanya menyembunyikan keterkjutan tapi juga kebingunganku yang ada pada lvel tertinggi saat itu. Bodohnya aku. Aku pun tak berani bertanya.


"Semalam kamu tertidur di sini selepas menangis, jadi aku ga tegah buat bangunkan kamu" tambahnya lirih sambil nunjuk ke bahunya.
"Bahkan kamu memeluk lenganku erat" lirihnya lagi sambil tersenyum.
"Whaaatttt???"jeritku dalam hati, untung bukan orang jelek, bukan orang ga waras yang aku tempeli. Duh, aku ini kenapa ya? kok jadi ga jelas begini. Aku terus merutuk dalam hati karena masih belum faham apa yang terjadi.

Suasanya antara kami pun sunyi.....hanya kulihat senyum yang terus mengembang di bibir pria itu. Yang jelas pasti dia pria yang baik pikirku. Tapi dia siapa? Sorot matanya pancarkan keramahan dan orangnya penuh kepedulian, begitu pun senyumnya. Tapi, yang terpenting dia tidak menganggapku gampangan, kan? Ya, aku yakin dia tidak menganggapku demikian. Akan tetapi, kenapa pandangan dia tentang aku jadi penting?.

Lalu, aku berusaha memecah kesunyian karena posisinya semakin membuatku merasa ada di dunia lain yang semuanya asing bagiku. Ruangan ini. Sangat asing. Warna sofa yang kami duduki, ranjang di seberang kami, lampu itu, cat tembok, lukisan, kelambu bahkan pria ini pun sungguh sangat asing bagiku! Hanya saja aku merasa aman.Gila! perasaan macam apa ini? jangan-jangan aku mengidap sebuah penyakit. Ya, penyakit ga waras! Sibuk dengan duniaku sendiri.

"Mm....eh, kenapa saya bisa ada di sini, ya?" tanyaku ragu. Dan lagi, pria itu tersenyum. Dan aku baru sadar, senyumnya sangat manis. Ah, sudahlah makin gila saja aku ini. Dia mendekatkan wajahnya kearahku, lalu membelai rambutku penuh kepedulian. Tatapan matanya membuat jantungku berdegup keras. Aku berusaha membuang muka, aku takut bertemu matanya.

"Sejak kapan kamu bicaranya seperti itu sama aku? Apa kamu lupa? semalam kamu yang minta aku datang, kamu cerita semalaman sambil menangis lalu tidur di sini!" jelasnya panjang, sambil lagi menunjuk bahunya. 

Aku mengernyitkan dahi, tak faham ceritanya. Mungkin dia benar karena aku tidak tahu dan tidak ingat apa-apa. Tapi, kenapa aku menangis? Kalau aku menangis, pasti aku memiliki masalah. Tapi, apa masalahku? aku merasa pagi ini baik-baik saja.

"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanyanya lirih. Aku mengangguk cepat tanpa menunggu persetujuan akal sehatku. Karena sepertinya akalku sedang tidak sehat.

"Sysukurlah....semalam aku sangat khawatir. Kamu terlihat sangat down" tambahnya sambil teersenyum. 

"STOOOPP!!!!" teriakku dalam hati, tak bisakah kamu berhenti tersenyum manis seperti itu? senyum itu mungkin biasa tapi kenapa seakan meluruh rantakkan tulang belulangku. Rasanya badanku lemas menyaksikan senyum itu. Senyum itu mengandung kekuatan magic yang dengan mudah menyerap semua tenagaku sampai habis. 

Aku ingin mencoba berdiri, tapi tak ada tenaga.

Pria itu berdiri, dia menuju ke arah pintu. setelah dekat dengan pintu dia membalikkan badannya kearahku, dan senyumnya yang membuatku lemas itu dia lemparkan lagi. Aku butuh kaca mata, butuh magic smile-guard glasses tepatnya!.

"Aku akan buatkan sarapan tapi yang paling simple ya? tergantung kamu punya apa di dalam kulkas" selorohnya. Aku tak mengangguk atau pun menggeleng. 

Setelah bayangannya menghilang dari balik pintu, aku mendapatkan kembali kekuatanku untuk berdiri. Aku ingin mendapatkan kembali kesadaranku. Kubuka lebar-lebar kelambu yang menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam kamar, kembali aku ditemukan pada pemandangan yang ga aku kenal. Aku benar-benar terlempar ke dunia lain. Dunia yang mengasingkanku dari orang-orang yang aku kenal, dari lingkungan yang aku kenal. Sebenarnya aku di mana?.
Aku tak ingin memaksakan diri mengingat kejadian semalam atau tentang dunia yang asing bagiku ini. Aku hanya berusaha untuk mengenali setiap hal yang ada di dalamnya. Karena aku yakin, sebenarnya aku yang asing untuk dunia ini bukan dunia ini yang asing bagiku. Perasaan terasing itu hanya terjadi saat kita menutup diri.

Terdengar suara decitan pintu dibuka saat aku mendaratkan pantatku di atas kasur, aku sedang ingin merasakan dan mengenalinya. Aku menoleh ke arah pintu, pria dengan senyum magic itu tersenyum membawah sepiring roti toast dan air lemon hangat, karena aku bisa mencium aromanya. Dia mendekat ke arah meja, menaruh semua yang dibawahnya di sana. 

"Kamu sarapan dulu, ya? Lalu, kamu bisa pilih mau tidur lagi atau kita bicara di luar" selorohnya menuju ke pintu dan meninggalkanku lagi. Aku hanya menurut. Dan aku mulai terbiasa dengan perasaan anehku yang penuh kebingungan. 

*Bersambung.......












No comments:

Post a Comment