JANJI - Part 3


"Mungkin aku sebagian dari masa lalu yang sudah terhapus oleh waktu. Namun, sebuah janji telah memanggilku  kesini. Sekarang, bersamamu" Pungkasnya singkat dan susah kumngerti. Kalimat itu terdengar seperti kiasan yang sengaja dibuat agar orang semakin bingung. 

Kudekati pria itu, dan aku berusaha menengok mukanya lebih dekat. Tentu saja aku harus memberanikan diri jika ingin mendapatkan jawaban jika tidak maka percuma aku hanya menyimpan penasaran dalam hatiku.

Aku sudah mendapatkan karakterku kembali. Ku ambil tangan pria itu, sangat dingin. Sambil terus kutatap lekat wajahnya yang teduh. Sangat teduh. Mengingatkanku pada seseorang di masa remajaku, tapi aku lupa siapa. Yang jelas aku pernah mlihatnya. Garis rahang yang tegas, alis panjang yang tebal dan kelopak mata yang memanjang. Tapi, siapa? Segera ku tepis pikiranku tentang orang di masa laluku. Aku mencoba tersenyum tenang. Meskipun itu bohong sekali. Aku tidak lagi tenang. Aku sedang gunda gulana.


"Kalau aku dulu sudah sangat bersalah sama kamu, maukan kamu memaafkanku?" tanyaku lirih. Dan senyum magis itu mengembang. Aku tersihir. Dan segera kuteriaki diriku sendiri agar kembali waras.

"Apa aku sedang amnesia?" tanyaku lagi pada pria tersebut. Kini dia bukan hanya tersenyum akan tetapi tertawa. Agak lebar. Tapi ditahan.

"Nggak! Kamu hanya lupa!" jelasnya singkat.

Aku nyengir, lalu ku lepas tangan pria itu dengan sedikit kasar karena aku merasa dipermainkan.

"Jadi, aku sekarang sedang lupa siapa kamu, siapa namamu dan kenapa kita bersama-sama di sini? begitu?" lanjutku dengan nada sedikit sebal.

"Iya." Jawab dia seihklasnya. Duh, yang tadinya aku tidak penasaran aku sekarang serasa mau mati karena penasaran. Kalau tahu endingnya begini lebih baik aku tadi diam saja. Mungkin ini hanya mimpi. Karena aku pernah membaca di sebuah buku, di mana kita juga akan mengalami sebuah mimpi aneh. Yaitu mimpi lupa siapa diri kita. Atau bermimpi tentang pelakunya adalah kita, namun saat itu di dalam mimpi kita sedang berperan menjadi orang lain. Begitu mungkin sekarang yang terjadi padaku. Aku sekarang sedang  berperan menjadi orang lain.

"Kamu tahu? sebenarnya kita sekarang sudah impas" kilahku sambil lagi berbalik ke arah pria itu. Dia menaikkan alisnya yang panjang dan rapih itu seolang bertanya "kenapa?" lalu aku pun meneruskan kalimatku dan memberikan dia jawaban dengan nada yang lebih tegas"karena kamu sudah bersalah saat tidak memberikan jawaban jelas tentang siapa kamu"

Pria itu mengulum tawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tya...dengar, aku sedang tidak menyembunyikan apa-apa ke kamu. Karena sebenarnya jawaban untuk pertanyaan kamu itu kamu sendiri yang tahu dan bahkan aku pun tidak tahu. Saat itu, aku tidak tahu apakah aku akan tetap menamanimu atau meninggalkanmu"

Paparnya panjang dan aku langsung membulatkan mataku. Aku tidak bisa mempercayai telingaku sendiri, kenapa dia semakin rumit.

"Kamu ini, semakin mempersulit posisiku. Membuat teka-teki. Kenapa kamu bisa meninggalkanku kalau aku ga ijinkan kamu pergi?" protesku.

"Keberadaanku di sini karena kamu, Tya. Kalau kamu menginginkanku aku akan tetap di sini, kalau tidak? Ya, apa boleh buat" sahutnya.

Kini aku menggeleng pelan dan semakin tidak faham.

"Sebesar itu powerku terhadap existensi mahluk sebagus kamu" sahutku asal dan apa yang ada dipikiranku kukeluarkan saja. Xixixixixi, aku sudah benar-benar mendapatkan karakter asliku kembali.

"Benar" angguknya. Dan aku melongo. Semakin ga percaya dia mengiyakan perkataanku begitu saja. 

Aku nyengir cuek lalu ngeloyor masuk kamar.

"Ingat, ya....kamu ga bisa pergi kalau aku belum ijinkan kamu pergi!" ancamku sebelum menutup pintu kamar. Pria bersenyum magis itu memberi tanda OK sambil tersenyum manis. Gila! Dia sengaja mengirimkan sihirnya padaku agar aku tidak punya akal sehat sepertinya.
Kuurungkan niatku menutup pintu, kupandangi punggung pria itu dari belakang. Dia sedang menuju dapur.

"Hei....kamu yakin tidak ingin cerita?" teriakku. Dia menoleh. Tersenyum dan menggeleng.

"Kenapa sih kamu keras kepala gitu?" kilahku

Dia tersenyum, mengangkat bahu. 

"Kamu lupa siapa yang keras kapala. Aku juga ingin makan sesuatu" kilahnya. Aku mendengus kesal, kubanting pintu kamar agak keras. Lalu kurebahkan badanku dikasur. Kucoba pejamkan mataku, mengosongkan pikiran. Perlahan sampai akhirnya aku tertidur.

*Bersambung...............


No comments:

Post a Comment