JANJI - Part 2

Setelah kuselesaikan sarapanku, sambil membawa piring dan gelas kotor aku keluar kamar. Pria bersenyum magic itu sedang duduk dengan menyilangkan kaki dan tangannya bersendekap di depan televisi. Tapi, aku tidak melihat sorot matanya focus ke televisi. Aku hanya memperhatikan sebentar, lalu mengarah ke arah wastafel dan mencuci piring serta gelas yang ada di tanganku.

"Ah...kamu sudah selesai" tanyanya. Aku menoleh sebentar, mengangguk sambil tersenyum lalu kualihkan pandanganku ke air yang mengalir dari kran. Aku memang tidak sedang berusaha mngingat apapun, akan tetapi aku tidak bisa penasaran dengan pria bersenyum magic itu. Kusibukkan pikiranku untuk menerkah siapa pria itu, akan tetapi aku tidak mendapatkan clue apapun. Yang aku rasakan saat ini hanya sendiri. Karena aku merasa tidak mengenal siapa-siapa. 


Saat keluar kamar, aku pun mencoba menebar pandanganku ke sekeliling ruangan, mencari foto atau gambar apa saja yang bisa memberikan aku clue, di mana aku dan siapa pria itu? Tapi, tidak kudapatkan clue apapun.

"Apakah dia adik? kakak? suami? pacar? atau siapaku? apa hubunganku dengannya"

"sudah selesai?" tanyanya mengagetkanku, karena dia memegang pergelangan tanganku dan mengelap dengan handuk kecil yang tergantung di dekat wastafel. Jantungku seakan berhenti berdetak saat itu. Dia menangkap keterkejutanku. Lalu tersenyum dan membimbingku duduk di sofa, tempat dia tadi duduk.

"Aku berharap kamu  baik-baik saja" ucapnya lirih sambil mengusap bahuku.

"Aku kenapa? aku baik-baik saja" ungkapku. Karena memang itu yang aku rasakan. Aku tidak merasakan apa-apa. Bahkan bisa dikatakan hampa selain rasa penasaran itu sendiri. Aku tersenyum tipis. Pria itu tersnyum juga sambil lagi menepuk bahuku.

"Kalau begitu, apa aku boleh pergi?" tanyanya. Aku langsung melotot kaget, menggeleng kuat tanpa sadar.

"Jangan!" paparku. Tanpa kumengerti. Aku hanya takut kalau dia pergi aku akan benar-benar kosong dan menjadi bingung. Kalau boleh aku ingin ikut kemanapun dia pergi. Karena hanya dia yang saat ini dekat denganku dan membuatku merasa aman.

"Baiklah, aku gak akan pergi sampai kamu mengijinkanku pergi" timpalnya. Semudah itu dia membuat keputusan. Dan aku masih saja diam tak berani bertanya apa-apa. Padahal dia sudah sangat baik.

"Aku akan selalu menepati janjiku" Lagi dia menimpali sambil tersenyum "Meskipun berkali-kali kamu pergi, aku akan menunggu dan berhenti sampai kami bahagia" dia menambahi lagi. Aku menatap pria itu. Mencoba mempelajari setiap detail wajahnya, mencoba menganalisa. Siapa dia? Menunggu? artinya selama ini aku yang meninggalkannya. Dan artinya dia adalah seseorang yang menyayangiku dengan tulus? Dia sangat baik, kenapa aku bisa meninggalkannya. Dan senyumnya yang memiliki kekuatan magis itu sangat mustahil membuatku meninggalkannya. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Saya.....eh, aku......minta maaf" gumamku lirih. Entahlah aku minta maaf untuk kesalahanku yang mana, hati ini ingin saja mengucapkan maaf. Karena aku berpikir pastilah aku ada di posisi yang jahat. 

Pria itu tersenyum manis. Sangat manis. Dia merengkuhku dalam peluknya. Lalu berkata lirih.

"Bahkan sebelum kamu minta maaf aku sudah memaafkanmu...."

"Kenapa begitu?" tanyaku merasa mendapatkan jalan untuk mendapatkan informasi lebih banyak.

"Karena....." dia tidak meneruskan kata-katanya. Ah, aku merasa jengkel. Ingin sekali marah "hey, kamu, pria yang memiliki senyum dengan kekuatan magis dan tak kuketahui namanu, bisakah bicara lebih jelas?" tapi semua itu hanya kusimpan dalam hati,

Tik-tak-tik-tak, waktu berjalan sangat lambat....sunyi. Aku ingin pria ini pergi tapi aku juga ingin dia tetap tinggal. Cukuplah kasih tahu aku siapa kamu, siapa namamu, kenapa kamu di sini, dan apa hubungan kita? Ah....mungkin sekarang aku mulai waras dan gak hampa lagi karena sudah mulai bisa berpikir normal. 

Waktu, iya waktu aku takut waktu yang tidak kupahami ini tiba-tiba menjadi pedang yang membunuhku sewaktu-waktu karena aku tidak memanfaatkannya dengan benar. Seharusnya aku mempergunakannya sebaik mungkin agar tidak terlalu lama terlempar dalam posisi dan kondisi kehampaan tanpa makna seperti ini.

"Mm.....aku sebenarnya tidak ingat apa-apa. Tentang tadi malam, tentang tempat ini, tentang kamu, hubungan kita dan apa yang terjadi pada kita? Bisakah kamu menjelaskannya?" tanyaku panjang karena aku tak ingin terlalu lama terdampar dalam kehampaan.

Pria itu menatapku agak lama. Lalu dia berdiri, dia menghela nafas panjang. Lalu duduk lagi. Dia terlihat sudah siap menceritakan apa yang sedang terjadi.

*Bersambung.....







Comments