JANJI - Part 2

Setelah kuselesaikan sarapanku, sambil membawa piring dan gelas kotor aku keluar kamar. Pria bersenyum magic itu sedang duduk dengan menyilangkan kaki dan tangannya bersendekap di depan televisi. Tapi, aku tidak melihat sorot matanya focus ke televisi. Aku hanya memperhatikan sebentar, lalu mengarah ke arah wastafel dan mencuci piring serta gelas yang ada di tanganku.

"Ah...kamu sudah selesai" tanyanya. Aku menoleh sebentar, mengangguk sambil tersenyum lalu kualihkan pandanganku ke air yang mengalir dari kran. Aku memang tidak sedang berusaha mngingat apapun, akan tetapi aku tidak bisa penasaran dengan pria bersenyum magic itu. Kusibukkan pikiranku untuk menerkah siapa pria itu, akan tetapi aku tidak mendapatkan clue apapun. Yang aku rasakan saat ini hanya sendiri. Karena aku merasa tidak mengenal siapa-siapa. 

JANJI - Part 1

Cahaya matahari yang memasuki celah-celah kelampu kamar yang sedikit tersingkap membangunkanku. Aku terkejut karena mendapati diri terbangun di pelukan seseorang yang tak begitu aku kenal. Ada apa dengan diriku? Siapa dirinya? Aku tidak mengingatnya tapi, aku merasa tahu siapa dirinya.

Siapa dia? aku berusaha mengingatnya dengan keras sambil pelan-pelan kugeser kepalaku. Dia tidak mungkin bukan siapa-siapa yang rela menjadi sandaranku dengan posisi duduk di sofa seperti ini. Semakin keras aku mencoba memaksakan diri semakin aku sulit mengingatnya.

"Hai, kamu sudah bangun?" suara itu sdikit membuatku terkejut, dia terbangun saat aku berusaha mengangkat kepalaku. Aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku, tersenyum. Bukan hanya menyembunyikan keterkjutan tapi juga kebingunganku yang ada pada lvel tertinggi saat itu. Bodohnya aku. Aku pun tak berani bertanya.