Pilpres 2019, Kesadaran Berpolitik & Fanatisme.

Pilpres ini adalah kali ke-3 aku ikut serta dalam pemilihan langsung. Yang pertama dan kedua biasa saja. Cuma tentang siapa yang kita pilih? Semua memang sesuai preference "tentang siapa sosok itu" ga melihat visi, misi dan bla bla apa yang akam diberikam pada negara tercinta ini.

Namun, pilpres 2019 ini lain. Seperti warga negara lain, aku pun mulai memiliki kesadaran berpolitik meski ga tertarik nimbrung di obrolan politik apalagi nyaleg, hihihi. Akan tetapi, aku mengamati, menganalisa, kadang terlibat diskusi ringan dan menghindari perdebatan. Aku paling benci debat, habis-habisin energy.

Yang aku tahu dalam politik itu memang tidak ada namanya lawan dan teman itu, akan tetapi siapa yang berkepentingan itu yang pasti akan mepet dan berdampingan.


Nah, oleh karena itu menyikapi hasil pemilu 17 April 2019 kemarin aku ya woles saja. Cuma memang ada harapan dan optimisme saja kalau calon pilihanku terpilih namun jika tidak aku berdoa semoga dia (yang menang dari opposan) bisa membawah negara ini ke arah yang lebih baik dari berbagai aspek. Dengan latar belakang pemikiran seperti ini, aku pun terhindar dari segala pengaruh di sekitar yang mulai menuduh KPU ga jujur, peserta dari Kubu 01 curang dan lain sebagainya.

Logikaku mengatakan, pastinya kecurangan akan ada saja (terjadi) dan pasti dilakukan oleh kubu 01 atau pun kubu 02. Yes or No? Of course Yes! Siapa yang bisa warranty salah satu kubu bersih? Ga ada! Pas kampanye saja gitu, ya kan? Karena di dalam politik kalau kamu ga memangsa pasti kamu yang dimangsa, hehehehe. Ga setuju? Ya ga apa. Ini kan nurut aku.

Kesadaran berpolitik yang keterlaluan di masyarakat kita ini ternyata mendorong fanatisme yang masyaallah luar biasanya. Well, ya tidak apa-apa. Wajar. Namanya juga suka. Suka ga suka itu masalah perasaan, dan masalah perasaan ini yang susah diubah. Nah, jika dalam menentukan pilihan ini memakai perasaan wajarlah jika yang sudah sukaaaaa banget akan pilihannya dia tidak bisa menerima informasi apapun yang masuk meski benar. Kata yang faham psikologi sih, udah tersentuh emosi dasarnya. Dan sebaliknya, ya?.

Dan emosi tersebut dimanfaatkan oleh orang-orang atau bahkan lembaga, organisasi yang bisa mengeruk untung dari kericuhan emosi kita. Di permainkan emosi kita, dibikin ricuh, sampai akhirnya muncul tagar super panjang di Facebook yang salah kaprah. Namun, karena perasaan sudah jadi korban kecurangan maka tidak sadar pula benar-benar menjadi korban para pengeruk keuntungan dari mereka yang pekerjaannya memanfaatkan emosi para netizen.


Kalau mengetahui hal ini, lantas apakah kita semua bisa menerima kenyataan kalau sudah dimanfaatkan? Sebagian ada yang bisa ada yang tidak. Karena memang kita memiliki preferensi yang berbeda terhadap pilihan politik kita.

Pertanyaanku pada tim pembela kubu 02, jika kalian rasa ternyata kubu 01 dicurangin dan kalian yang diuntungkan apakah kalian akan membela juga? atau minimal kawal perhitungan pemilu? Pertanyaan serupa untuk tim kubu 01 apakah sifat tenang ini benar-benar murni karena memang kalian memiliki kedewasaan dalam berpikir atau kebetulan tim preference kalian menang? Jawabannya cukup di simpan di dalam hati kita masing-masing karena ini hanya untuk mengetahui kadar fanatisme kita baik buat pendukung kubu 01 dan kubu 02. Karena fanatisme yang berlebih itu tak elok.

Tapi, sebelum kita terlalu ngotot dan sampai musuhan dengan teman, saudara atau bahkan dengan mereka yang belum jadi teman kita apakah kita faham? Jika misal 01 beneran ditetapkan menang dan kursi parlemen mayoritas di isi oleh partai kubu 01 maka sangat tidak mungkin partai koalisi kubu 02 akan mendekat ke kubu 01? Pun sebaliknya!Lucu, kan? Tapi itulah politik. 


Maka, menurutku sekarang ada baiknya kita belajar netral saja dengan KPU. Karena lembaga ini independent dipilih pula oleh wakil rakyat yang kita pilih lima tahun lalu (DPR) dan kita pun bisa check berdasarkan C1, toh? Hormati para petugas mulai dari paling bawah yaitu KPPS. Mereka bekerja keras demi lancarnya pesta demokrasi di negeri ini.

Lagi pula ini pesta demokrasi, namanya pesta kita sambut dengan suka cita dan cinta. Kalau kita merayakan pesta dengan penuh suka cita kayanya lebih seru lho daripada saling fitnah dan olok sana and sini. Meskipun, Black campaign, narasi provokasi masuk dalam kampanye timses pastikan kita ga kena dampak negativenya dengan bijak menerima informasi.

In the end, lets spread the world with our positive thought and gift the world our positive vibe for better world. 

Ini hanya pendapat dari seorang ibu rumah tangga.










4 comments:

  1. Iyesss, mom.. Aku kepikiran mau bbikin tulisan gini tapi kelupaan trs. Tengkyuu sudah mewakili isi hatiku, mbaa :)

    ReplyDelete
  2. Kak han.. memang pemilu 2019 ini sangat luar biasa yaaaa.... Disaat saya mencoba tenang untuk tidak fanatik di salahbsatu kubu aja dicolak colek untuk berpendapat. Saya malas bahas politik apalagi kalau jadinya menjelekkan..hahaha...

    Siapapun presidennya semoga bisa menjadikan Indonesia lebih baik lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha
      Betul, sama.
      Kalau diskusi sehat palingan aku lakukan sama suami tanpa ada kesan debat. Kami biasanya saling tukar pendapat dan informasi. Tapi, sebisa mungkin gak latah.

      Delete