Tentang Ihklas


Ini artikel aku copy dari status di Facebook. Bukan karena malas nulis artikel, akan tetapi bagus buat reminder dan perenungan diri.
Karena ilmu ihklas itu memang terus dan terus berkembang dan semakin sulit. Bisa melewati phase A akan naik lagi ke phase B dan terus berlanjut. Dan, sangatlah manusia saat kadang berhasil dan kadang tidak ( tapi jangan terlalu sering tidak berhasil) menerapkannya. 

Karena hidup intinya terus belajar menjadi baik. Kalau hidup sekedar hidup apalah maknanya?
Saya sudah pernah ada di posisi; marah, tidak terima dan cuek alias masa bodoh karena merasa disakiti, diperlakukan tidak adil dan tidak dianggap.

Belajar ihklas dan memaafkan setiap saat, tapi orang-orang terdekat yang tidak bisa menerima karena merasa saya bodoh dan mau saja dimanfaatkan.

Tapi, alhamdulillah. Saya segera bisa melawan segala rasa yang menguras energy itu dengan belajar ihklas. Tentu tidak mudah. Langkah awal yang saya lakukan agar bisa ihklas adalah saya terus berusaha berbuat baik meski kadang masih bersinggungan dengan hati tapi saya niatkan semua untuk Ridho-Nya. Setiap mau marah, saya ingat Allah. Ada ALLAH, ada ALLAH, ada ALLAH. Yes, itu saja yang saya tanamkan dalam hati.

Lalu, saya bangkitkan lagi prinsip yang sebenarnya waktu kecil pernah ditanamkan dalam diri saya "orang lain boleh berbuat tidak baik, tapi kita jangan. Biarlah semua menjadi urusan Tuhan" pokoknya fokus saja menjadi baik.

Lalu, saya mulai belajar memaafkan. Caranya dengan selalu berusaha maklum jika ada yang menyakiti saya. Entah sengaja atau tidak. "Mungkin dia tidak tahu kalau itu menyakiti hati saya, semoga hatinya dilembutkan" itu yang saya katakan pada diri sendiri agar bisa memaafkan.

Dan saya pun pasrah, bahwasannya segala sesuatu yang terjadi atas hidup saya adalah murni kehendak ALLAH. Pilihan hidup saya, skenario hidup saya semua itu di luar kendali saya. Yang harus saya lakukan hanya berusaha menjadi baik dan dekat pada-NYA untuk memohon perlindungan.

Dan hal yang membuat saya kuat saat saya sedang lemah adalah menguatkan orang lain, membantu itu membuat saya merasakan kebahagiaan, kepuasan tersendiri. Kalau Ibu saya sudah hafal dengan ini.
Sampai sekarang, masih terus belajar dan belajar.

Karena ternyata dengan hidup seperti ini, saya baru merasakan kalau saya lebih dewasa daripada sebelumnya. Tua itu pasti, tapi dewasa itu belum tentu 😊
Lebih bahagia pastinya dan saya pun tak lagi merasa teraniaya, mungkin karena sudah pasrah saja sama TUHAN.

Hidup ini indah, kawan jika kita melihat dan menikmatinya demikian 

No comments:

Post a Comment